BATUSANGKAR — LACAKPOS.CO.ID – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digulirkan pemerintah tidak lagi sekadar menjadi layanan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya. Memasuki 2026, program tersebut diarahkan lebih jauh untuk memastikan masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan mendapatkan penanganan dan pengobatan secara tepat.
Kementerian Kesehatan mencatat hingga 5 Juli 2026 sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui program CKG. Pemerintah menargetkan jumlah peserta mencapai 130 juta orang pada akhir 2026. CKG ditujukan kepada seluruh kelompok usia, mulai bayi baru lahir, balita, anak usia sekolah dan remaja, dewasa hingga lanjut usia.
Program tersebut menjadi penting karena banyak penyakit dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang dirasakan masyarakat. Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, fungsi ginjal, kesehatan mata dan telinga, gigi, kesehatan jiwa, hingga pemeriksaan faktor risiko penyakit tidak menular menjadi bagian dari skrining sesuai kelompok usia.
Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. Dr. M. Ali Hanafiah Batusangkar, dr. Nurman Eka Putra di temui di ruang kerjanya Jum’at (07/08/2026), menilai CKG memiliki arti penting karena memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang lebih jauh.
“Cek Kesehatan Gratis ini sangat penting karena masyarakat tidak harus menunggu sakit terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi kesehatannya. Dengan pemeriksaan sejak dini, faktor risiko maupun penyakit yang belum menimbulkan gejala dapat diketahui dan ditangani lebih cepat,” kata dr. Nurman Eka Putra.
Menurutnya, keberhasilan CKG tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya masyarakat yang datang menjalani pemeriksaan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti, terutama terhadap masyarakat yang ditemukan memiliki indikasi atau penyakit tertentu.
“Pemeriksaan merupakan langkah awal. Setelah ditemukan adanya masalah kesehatan, yang tidak kalah penting adalah tindak lanjutnya, baik melalui pengobatan, pemantauan maupun rujukan apabila memang diperlukan. Karena itu, pelayanan kesehatan harus terintegrasi agar masyarakat tidak berhenti hanya pada hasil pemeriksaan,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan sendiri mulai 2026 memfokuskan CKG pada tata laksana hasil pemeriksaan. Pemerintah menyebut penanganan bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan menjadi bagian penting dari perubahan pendekatan pelayanan kesehatan, dari yang sebelumnya lebih berorientasi mengobati menjadi semakin menekankan pencegahan dan deteksi dini.
Data evaluasi Kemenkes terhadap hasil CKG juga menunjukkan persoalan kesehatan ditemukan pada berbagai kelompok umur. Pada 2025, antara lain tercatat satu dari lima remaja memiliki tekanan darah di atas normal, sekitar satu dari tiga orang dewasa mengalami obesitas sentral, dan 51 persen lansia mengalami hipertensi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak selalu identik dengan masyarakat yang sudah merasakan keluhan. Seseorang dapat terlihat sehat secara kasat mata, tetapi memiliki faktor risiko penyakit yang baru diketahui setelah menjalani pemeriksaan.
Di sisi lain, pelaksanaan CKG juga menghadapi tantangan. Tingginya jumlah sasaran membutuhkan kesiapan tenaga kesehatan, sarana pemeriksaan, sistem pencatatan dan pelaporan, serta mekanisme rujukan yang mampu menangani masyarakat berdasarkan hasil skrining.
Tantangan lainnya adalah memastikan masyarakat tidak menganggap CKG sebagai pemeriksaan sekali datang tanpa perlu melakukan perubahan perilaku. Hasil skrining harus menjadi dasar untuk memperbaiki pola hidup, melakukan pengobatan apabila diperlukan, serta menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Kemenkes menegaskan CKG diberikan kepada masyarakat sesuai kelompok usia dan dapat diakses baik oleh peserta maupun bukan peserta Jaminan Kesehatan Nasional. Untuk kelompok dewasa dan lansia, pemeriksaan dapat mencakup deteksi faktor risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, penyakit paru dan gangguan ginjal, dengan jenis pemeriksaan disesuaikan kelompok usia serta ketersediaan layanan.
Dalam konteks pelayanan rumah sakit, hasil skrining dari fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama juga menjadi bagian penting dalam sistem rujukan. Masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut harus mendapatkan akses pelayanan sesuai indikasi medis.
- Nurman menekankan masyarakat sebaiknya tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan kesehatan.
“Pesan kami kepada masyarakat, manfaatkan program CKG ini. Jangan menunggu sakit baru datang ke fasilitas kesehatan. Semakin cepat suatu masalah kesehatan diketahui, semakin besar peluang untuk dilakukan pencegahan dan penanganan secara tepat,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa hasil pemeriksaan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti masyarakat, melainkan informasi penting untuk menentukan langkah kesehatan berikutnya.
“Yang paling penting bukan takut mengetahui hasil pemeriksaan, tetapi bagaimana kita mengetahui kondisi tubuh kemudian mengambil langkah yang tepat. Kalau ditemukan faktor risiko, kita cegah agar tidak menjadi penyakit. Kalau sudah ditemukan penyakit, kita obati dan pantau sesuai kebutuhan,” ujar dr. Nurman.
Dengan demikian, CKG bukan sekadar program pemeriksaan gratis, melainkan bagian dari strategi kesehatan masyarakat untuk menemukan masalah kesehatan lebih awal dan mendorong penanganan sedini mungkin.
Di tengah meningkatnya penyakit tidak menular dan berbagai faktor risiko kesehatan, keberhasilan program ini pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah masyarakat yang diperiksa. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak masalah kesehatan yang berhasil ditemukan, dicegah perkembangannya, ditangani, dan ditindaklanjuti hingga masyarakat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.
Cegah sebelum terlambat, periksa sebelum sakit, dan tuntaskan pengobatan setelah penyakit ditemukan.(**)






