Karhutla Gunung Awu Hari ke-17, Tim Gabungan Fokus Padamkan Bara Tersisa

Caption: Kepala BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe Wandu Labesi. (Rinny/LacakPos)

PSANGIHE, LacakPos.co.id — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan sekitar Gunung Api Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, masih terus dilakukan. Memasuki hari ke-17, titik api dilaporkan menurun, namun petugas gabungan masih melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan bara yang tersisa benar-benar padam.

Penanganan melibatkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, TNI-Polri, relawan serta masyarakat di sejumlah wilayah terdampak, khususnya Kecamatan Tahuna Barat, Tabukan Utara dan Kendahe.

Kepala BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wandu Labesi, mengatakan koordinasi antarinstansi terus dilakukan untuk mengevaluasi kondisi di lapangan sekaligus menentukan langkah penanganan berikutnya.

Menurut Wandu, kondisi di Kecamatan Kendahe relatif membaik. Berdasarkan laporan dari pihak kecamatan, tidak lagi ditemukan titik api baru. Meski demikian, petugas masih melakukan penyisiran karena bara api masih ditemukan di sejumlah lokasi.

“Untuk Kendahe tinggal pemadaman bara api,” kata Wandu saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026), di ruang kerjanya.

Sementara itu, penanganan masih dilakukan di Kecamatan Tahuna Barat dan Tabukan Utara. Di Tahuna Barat, masih terdapat satu titik yang menjadi perhatian petugas, sedangkan di Tabukan Utara masih ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan.

Dalam proses pemantauan, petugas juga menggunakan teknologi drone untuk membantu melihat kondisi kawasan terdampak serta mendeteksi titik-titik yang masih berpotensi menimbulkan api.

Wandu menjelaskan, salah satu kendala dalam proses pemadaman adalah bara yang berada di kawasan dengan vegetasi pohon pakis. Bara tidak hanya berada di permukaan, tetapi dapat menjalar hingga ke dalam tanah sehingga membutuhkan penanganan lebih ekstra.

“Pekerjaan sekarang adalah bagaimana memadamkan bara-bara api, khususnya yang ada di pohon-pohon pakis. Karena baranya itu sampai di dalam tanah,” ujarnya.

Untuk mencegah api kembali merambat, pemerintah bersama unsur terkait juga menyiapkan langkah mitigasi berupa pembuatan sekat atau parit yang memisahkan kawasan terbakar, seperti hutan pakis dan ilalang, dengan lahan perkebunan masyarakat.

Selain pemadaman, pemerintah daerah mulai menyiapkan pemetaan kawasan yang terdampak Karhutla. Pemetaan akan melibatkan relawan serta TNI-Polri dan didukung pemanfaatan teknologi informasi untuk memperoleh data luasan lahan terbakar secara lebih akurat.

Wandu mengapresiasi keterlibatan masyarakat, para camat, TNI-Polri dan relawan yang terus membantu penanganan Karhutla sejak kebakaran terjadi.

Dukungan operasional dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara juga telah disalurkan melalui para camat. Bantuan tersebut digunakan untuk menunjang kebutuhan petugas dan operasional posko, termasuk kebutuhan BBM serta keperluan lainnya selama proses penanganan.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe selanjutnya akan kembali melakukan evaluasi bersama Forkopimda. Penutupan kegiatan pemadaman akan dipertimbangkan setelah seluruh titik api dan bara dinyatakan telah berhasil ditangani.

Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, BPBD mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Kondisi lingkungan yang kering dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran baru.

Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membuang puntung rokok sembarangan di kawasan kering maupun sepanjang perjalanan.

“Kita hati-hati dengan kondisi seperti ini. Kita harus memitigasi jangan sampai ada musibah kebakaran, apakah kebakaran rumah atau kebakaran hutan dan lahan,” imbau Wandu.

Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di rumah yang berpotensi menimbulkan api serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Sementara terkait kemungkinan dampak Karhutla terhadap perkebunan warga, BPBD masih melakukan pendataan. Hingga kini, informasi mengenai kerusakan lahan perkebunan belum sepenuhnya diperoleh.

Pemerintah memastikan upaya mencegah api meluas ke kawasan perkebunan masyarakat tetap menjadi salah satu prioritas selama proses penanganan Karhutla berlangsung. (Rinny)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *