SANGIHE, LacakPos.co.id – Kelayakan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah, yakni Mahena, Bungalawang, Menente, dan Akembuala, menjadi sorotan setelah penyalurannya diduga mengalami keterlambatan hingga berlangsung pada sore bahkan malam hari. Kondisi tersebut memicu pertanyaan dari para penerima manfaat yang menilai waktu distribusi tidak lagi ideal untuk program yang ditujukan bagi kelompok rentan.
Sorotan tidak hanya tertuju pada keterlambatan distribusi. Ukuran potongan ayam dalam paket makanan yang diterima penerima manfaat juga menuai perhatian karena dinilai tidak sesuai.
Koordinator Wilayah (Korwil), Monisye Lesawengen, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Kamis,6/8-26 membenarkan adanya kesalahan dalam ukuran potongan ayam yang dibagikan.
”Ya, benar ukuran potongan ayam itu salah,” kata Monisye.
Ia menjelaskan, keterlambatan distribusi terjadi akibat bahan baku yang baru tiba sehingga proses memasak baru bisa dimulai setelah seluruh bahan tersedia.
”Makanan yang didistribusikan memang benar terlambat, tetapi baru selesai dimasak dan saat dibagikan kondisinya masih panas,” tambahnya.
Penjelasan serupa disampaikan Kepala SPPG Tahuna, Josheppert Tatawi. Melalui pesan WhatsApp, ia mengatakan keterlambatan penyaluran MBG disebabkan terlambatnya pasokan bahan baku yang berdampak pada mundurnya proses pengolahan makanan bagi kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
”Untuk keterlambatan penyaluran yang terjadi kemarin dikarenakan keterlambatan bahan baku yang masuk, sehingga pengolahan makanan untuk kelompok 3B mulai pukul 15.30 WITA dan baru dapat disalurkan mulai pukul 17.00 WITA,” jelas Tatawi.
Menurutnya, pihak SPPG telah berkoordinasi dengan kader di masing-masing kelurahan untuk menyampaikan informasi mengenai keterlambatan kepada para penerima manfaat.
”Kami sudah berkoordinasi terlebih dahulu dengan kader di masing-masing kelurahan bahwa akan ada keterlambatan dalam pengantaran 3B. Itu saja informasi dari saya, terima kasih dan mohon maaf atas keterlambatan yang terjadi. Ke depan akan kami evaluasi,” tutupnya.
Meski penjelasan telah disampaikan, keterlambatan distribusi hingga sore dan malam hari tetap memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan pelaksanaan program serta efektivitas rantai pasok bahan baku. Bagi program yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, ketepatan waktu distribusi merupakan bagian penting dari kualitas layanan, bukan sekadar persoalan teknis.
Kesalahan ukuran potongan ayam yang diakui pihak pelaksana, ditambah keterlambatan penyaluran, menjadi catatan yang diharapkan segera dievaluasi. Masyarakat berharap Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya memenuhi target penyaluran, tetapi juga mampu menjamin kualitas, ketepatan waktu, dan kesesuaian standar pelayanan agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh para penerima.
(Rinny)






