Oleh: Rinny Y Kampong Wartawan LacakPos Biro Sangihe
TAHUNA – LACAKPOS.CO.ID – Minggu siang, 20 Juli 2025. Langit di atas perairan Talise biru seperti biasa. Tak ada tanda bahwa hari itu akan menjadi salah satu hari paling kelam yang pernah tercatat dalam ingatan masyarakat Nyiur melambai bahkan mengguncang nurani dunia.

Kapal Motor (KM) Barcelona VA yang mengangkut ratusan penumpang menuju Manado dari pelabuhan Talaud terbakar hebat di tengah laut. Asap hitam membumbung, jeritan minta tolong menggema, dan kepanikan merebak tak beraturan. Tapi di tengah kehancuran itu, muncul cahaya lain bukan dari sirine penyelamat, bukan dari kapal patroli, tapi dari keberanian manusia biasa, panggilan hati dari nelayan pesisir negeri nyiur melambai.
Nelayan-nelayan dari Pulau Gangga, tanpa peralatan canggih, tanpa pelatihan evakuasi, mendayung perahu kecil mereka ke tengah kobaran api. Mereka datang bukan karena perintah, tapi karena hati nurani. Mereka angkat tubuh yang lemah, basah, bahkan terluka,dan tak sedikit yang nyaris putus asa ke atas perahu-perahu sederhana mereka.
Namun di balik kisah heroik itu, tersimpan pertanyaan yang tak bisa disingkirkan begitu saja:
Mengapa masyarakat biasa yang harus pertama kali menyelamatkan?
Ke mana sistem yang seharusnya lebih siap?
Mengapa manifest penumpang masih bisa tak akurat?
Mengapa alat keselamatan tak cukup?
Mengapa kita selalu bereaksi setelah luka muncul?
Kini para penyintas mulai bangkit, luka fisik bisa sembuh,luka hati lebih pelan, tapi tetap dijahit dengan kasih dari sesama.Semangat untuk memperbaiki sistem mulai tumbuh dari suara publik, dari dorongan keluarga korban, dari mereka yang menolak tragedi ini jadi sekadar angka statistik.
Rahkyat bisa menyelamatkan sesamanya adalah bukti bahwa hati manusia masih kuat dan murni. Tapi bahwa sistem gagal hadir lebih dulu itulah luka yang tak boleh diabaikan. Tragedi ini adalah tamparan bagi semua pihak: bahwa keselamatan bukan hanya soal aturan, tapi soal tanggung jawab.
Dari puing-puing Barcelona VA, dari air mata dan trauma, satu hal menjadi terang: kita bisa pulih. Karena di negeri ini, masih ada jiwa-jiwa yang tak ragu menjadikan nyawa orang lain sebagai panggilan jiwa mereka.
(Rinny)






