SANGIHE, LacakPos.co.id – Pencanangan Kampung Tidore sebagai kampung nelayan oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara Jacob Hendrik Pattipeilohy, pada Senin (18/5 26) menjadi momentum yang menarik untuk dicermati lebih dalam, terutama dari sisi sejarah dan pengakuan identitas masyarakat pesisir di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Masyarakat Kampung Tidore yang dikenal sebagai nelayan asli disebut telah hidup dan berkembang selama kurang lebih 123 tahun. Namun, pengakuan formal sebagai kampung nelayan baru diperoleh pada masa sekarang, meski jejak pemerintahan di wilayah ini telah ada sejak 3 Maret 1903 hingga 2026.
Fakta ini memunculkan pertanyaan reflektif: mengapa sebuah komunitas yang telah lama hidup dari laut dan membangun peradaban pesisir justru baru mendapatkan pengakuan resmi di era yang sangat modern? Di tengah perkembangan administrasi dan tata kelola pemerintahan, pengakuan terhadap komunitas tradisional sering kali datang terlambat dibanding realitas sosial yang telah lama hidup di masyarakat.
Pencanangan ini tentu patut diapresiasi sebagai langkah penguatan identitas dan pemberdayaan masyarakat nelayan. Namun, di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa masih banyak komunitas pesisir di daerah kepulauan yang membutuhkan perhatian lebih serius dari negara, bukan hanya dalam bentuk pengakuan administratif, tetapi juga dalam peningkatan kesejahteraan, perlindungan wilayah tangkap, dan keberlanjutan hidup mereka.
Lebih jauh, momentum ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Pengakuan terhadap Kampung Tidore semestinya menjadi pintu masuk bagi kebijakan yang lebih berpihak pada nelayan tradisional mereka yang selama ini menjadi penjaga utama ketahanan pangan laut dan budaya maritim Indonesia.
Pada akhirnya, sejarah panjang 123 tahun yang baru diakui hari ini bukan sekadar catatan administratif, tetapi juga cermin bahwa relasi antara negara dan masyarakat pesisir masih perlu terus diperbaiki agar lebih adil, inklusif, dan berpihak pada mereka yang telah lebih dulu hidup dari laut sebelum pengakuan itu datang.
(Rinny Kampong )
Pengakuan Kampung Nelayan Tidore di Sangihe dan Makna Sejarah yang Terlambat






