TANAH DATAR — LACAKPOS.CO.ID – Awan masih rendah, memeluk lereng Singgalang yang basah oleh sisa hujan, ketika tim gabungan perlahan merapat ke kawasan Pemandian Mega Mendung, Jorong Air Mancur, Senin pagi (1/12/2025). Bukan rombongan resmi, bukan juga rombongan media. Mereka datang membawa sekop, tandu, serta peralatan evakuasi—dan satu tujuan: menemukan warga yang hilang setelah longsoran galodo menyapu kawasan itu.
Di tengah kabut dan lumpur yang terus merayap, Dandim 0307/Tanah Datar, Letkol Inf Agus Priyo Pujo Sumedi, turun langsung memimpin jalannya evakuasi. Di sampingnya, Bupati Tanah Datar Eka Putra serta Komandan Batalyon 131/Brs, Letkol Inf Dedi Harnoto, ikut menembus medan sulit bersama para personel TNI, Polri, BPBD, hingga BNPB. Mereka berjalan pelan—bukan karena ragu, tetapi karena setiap langkah salah bisa memicu longsor susulan.
Pencarian Tanpa Henti
Sejak pagi buta, regu penyisir bergerak menyusuri alur sungai kecil, bebatuan besar, dan sisa material banjir bandang yang mengeras. Bau lumpur bercampur akar pepohonan basah menjadi latar yang mengingatkan betapa ganasnya bencana itu terjadi. Pada titik tertentu, seorang anggota tim berhenti. Di sana, di sela batu besar dan endapan kayu, tubuh korban ditemukan.
Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan kemenangan. Hanya isyarat tangan dan panggilan singkat untuk mendatangkan peralatan evakuasi. Dalam operasi seperti ini, kecepatan bukan tujuan—keselamatan tim dan kehormatan korban lebih penting dari semuanya.
Mendaratkan korban dari bawah timbunan material bukan pekerjaan mudah. Batu sebesar badan manusia menekan sebagian tubuh, sementara pecahan kayu, pasir, dan puing menutup bagian lainnya. Setiap inci yang digerakkan harus diukur agar tidak memicu runtuhan baru. Proses itu memakan waktu, menguji kesabaran serta napas para petugas.
Bupati dan Dandim Berdiri di Garis Depan
Di lokasi, Bupati Eka Putra tak hanya menyaksikan. Ia berbicara dengan keluarga korban yang menunggu dalam diam, memberi penguatan di tengah cemas yang tak terkendali. Saat proses evakuasi selesai dan korban berhasil dibawa ke dalam tandu, suasana berubah—tidak lega, tetapi pasrah. Para anggota keluarga menutup wajah, beberapa berdoa, beberapa hanya menatap kosong.
“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh tim gabungan yang telah bekerja tanpa mengenal lelah. Upaya ini sangat berarti bagi keluarga korban dan masyarakat,” ujar Bupati Eka Putra, menahan suara ketika menyampaikan penghormatan untuk seluruh petugas.
Letkol Inf Agus Priyo Pujo Sumedi, yang sejak awal berada di lapangan, mengarahkan unitnya untuk memastikan area tetap aman. Tidak ada perintah dibentak, tidak ada suara yang meninggi—semuanya berjalan tenang dan disiplin. TNI mengawal jalur evakuasi, relawan menata akses keluar, dan petugas medis bersiap menjemput korban.
Prosedur Lanjut dan Tanggung Jawab Moral
Setelah berhasil diangkat dan dinyatakan aman untuk dipindahkan, jenazah korban diserahkan kepada Tim DVI Kota Padang Panjang untuk proses identifikasi lebih lanjut. Di titik ini, panggung evakuasi berganti menjadi ruang resmi penanganan forensik. Bencana bukan sekadar angka; setiap tubuh memiliki nama, keluarga, dan cerita yang harus dipulangkan dengan hormat.
Dandim 0307/Tanah Datar menegaskan bahwa operasi pencarian tidak berakhir di temuan hari itu. Masih ada dugaan korban lain di jalur aliran galodo yang harus ditemukan, dan selama kemungkinan itu ada, tim tidak akan berhenti.
“Kami menyampaikan kepada masyarakat bahwa pencarian akan terus berlanjut. Tidak akan ada lokasi yang dilewati begitu saja sebelum dipastikan aman,” tegas Letkol Inf Agus, memberikan gambaran komitmen TNI.
Bupati Eka Putra menguatkan pesan tersebut. Ia menyatakan pemerintah daerah bekerja bahu-membahu dengan unsur TNI, Polri, BNPB, relawan, dan masyarakat lokal. Bukan sekadar simbol kehadiran pejabat, tetapi koordinasi nyata yang menentukan keberhasilan di medan sulit.
Bencana yang Tak Hanya Merusak Infrastruktur
Di Mega Mendung, dahan dan batu masih bertumpuk. Aliran air berubah arah, meninggalkan cekungan baru di sisi bukit. Namun yang paling berat bukanlah kerusakan fisik—melainkan ketidakpastian yang menjerat keluarga dan tetangga korban. Setiap berita temuan tubuh membawa harapan yang pahit: setidaknya mereka bisa pulang, meski bukan dalam keadaan hidup.
Operasi evakuasi hari itu menjadi gambaran besar tentang bagaimana sebuah daerah bangkit dari bencana. Tidak ada tokoh yang bekerja sendiri. Para prajurit TNI menggali, polisi mengamankan area, personel BNPB memetakan titik rawan, relawan menyiapkan konsumsi, petugas medis menenangkan keluarga. Di antara mereka, hadir para pemimpin daerah yang tidak hanya memberi arahan dari jauh, tetapi berdiri di garis depan.
Bagi Tanah Datar, tragedi ini bukan sekadar catatan statistik. Ia adalah luka kolektif—dan proses evakuasi hari itu menjadi bukti bahwa solidaritas adalah alat pemulihan paling awal. Sebuah kehadiran senyap, yang kadang tidak memiliki sorotan kamera, tetapi dirasakan dalam-dalam oleh mereka yang kehilangan.(**)






