SANGIHE – LACAKPOS.CO.ID – Mentari belum tampak di ufuk timur, tapi Pulau Para di Kecamatan Tatoareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sudah mulai bergeliat.
Pada Kamis, 12 Juni 2025, suasana di Desa Para Lelle terasa berbeda. Warga berkumpul di bibir pantai, sebagian membawa alat-alat tradisional, inilah hari yang ditunggu-tunggu: hari pelaksanaan tradisi Seke Maneke.

Seke Maneke bukan sekadar cara menangkap ikan. Ia adalah jantung dari warisan leluhur yang berdenyut hingga hari ini. Tradisi bahari ini sudah hidup sejak lama, diturunkan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Para Lelle. Alat yang digunakan pun semuanya alami—bulutui, kayu nibong, rotan, dan daun kelapa—tanpa jaring, tanpa mesin. Semuanya menggambarkan keterhubungan manusia dengan alam, penuh kehati-hatian dan rasa hormat terhadap laut.
Salah satu tokoh adat setempat, menuturkan dengan semangat, “Dari jam tiga pagi, masyarakat sudah mulai bersiap. Menjelang matahari terbit, kita bisa melihat jaring bambunya memanjang sampai ke darat. Di situlah keajaiban terjadi—ikan-ikan bermunculan dari laut seperti ikut dalam perayaan.”
Seke pagi ini adalah yang pertama. Nantinya, menjelang sore akan dilaksanakan Seke kedua, dan masyarakat berharap hasilnya lebih melimpah. Bukan soal seberapa banyak ikan yang ditangkap, tapi bagaimana seluruh proses ini menjadi momen kebersamaan, semacam perjamuan budaya yang mengikat warga dalam rasa syukur dan persaudaraan.
ini adalah pengalaman pertama menyaksikan langsung tradisi ini. Ada rasa haru sekaligus kebanggaan melihat bagaimana nilai-nilai luhur masih dijaga dengan teguh. “Saya akan terus mengembangkan fasilitas-fasilitas yang mendukung acara ini. Harapan saya,tradisi ini bukan hanya bertahan, tapi juga tumbuh menjadi daya tarik budaya dan pariwisata,” ujar Thungari.
Seke Maneke adalah wajah asli Pulau Para—alam, budaya, dan manusia hidup dalam keseimbangan. Semoga di tahun-tahun mendatang, bukan hanya warga lokal yang menyambut fajar bersama Seke, tapi juga para pelancong dari penjuru dunia yang datang untuk merasakan kehangatan tradisi ini.
Dan seperti embusan angin laut yang tak pernah berhenti, semoga Seke Maneke terus hidup, menari bersama gelombang, mengajarkan kita arti kebersamaan, kearifan, dan cinta pada bumi pertiwi.
(Rinny)






