TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID — Praktisi hukum sekaligus pegiat literasi media, Joni Hermanto, S.H., menegaskan bahwa etika merupakan fondasi utama jurnalistik, bukan sekadar pelengkap, dalam kegiatan Pelatihan Dasar Jurnalistik bagi siswa SMAN 2 Lintau Buo yang digelar di Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tanah Datar, Jl. MT Haryono No. 10, Batusangkar, Jumat (23/01/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 16 orang peserta yang berasal dari siswi SMAN 2 Lintau Buo, dan dilaksanakan sebagai bagian dari upaya penguatan literasi media serta pembinaan jurnalistik pelajar.
Dalam kegiatan itu, Joni Hermanto didampingi oleh Ketua PWI Tanah Datar, Chandra Antoni, S.E., Ketua Bidang Kebudayaan PWI Tanah Datar, Meriyanto, serta Ketua Dewan Pembina PWI Tanah Datar, Mustafa Akmal, S.H., S.M. dan Yuldaveri, S.Sos. Kehadiran jajaran pengurus PWI Tanah Datar tersebut menegaskan komitmen insan pers dalam membangun ekosistem jurnalistik yang sehat dan beretika sejak usia sekolah.
Kegiatan pelatihan ini turut dihadiri oleh Erlina Susanti, S.Pd, selaku Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik SMAN 2 Lintau Buo, Fitria Melda, S.Pd dan Roma Fitra, S.A.P selaku Pembina Majalah Dinding, serta salah seorang siswi kelas XII, Laura Leatemia, yang mewakili peserta.
Dalam pemaparannya, Joni Hermanto menegaskan bahwa jurnalistik merupakan kerja intelektual sekaligus tanggung jawab moral, bukan sekadar aktivitas menulis.
“Jurnalistik itu bukan soal siapa paling cepat menulis, tapi siapa paling bertanggung jawab menyampaikan kebenaran. Tanpa etika, berita bisa berubah menjadi alat pembunuhan karakter,” tegas Wartawan Kompetensi Utama itu..
Ia juga mengingatkan para siswi agar tidak terjebak pada sensasi dan popularitas semu.
“Berita yang baik bukan yang paling viral, tetapi yang paling jujur. Popularitas tidak boleh mengalahkan nurani,” ujarnya.
Joni Hermanto menguraikan Kode Etik Jurnalistik sebagai pagar moral yang wajib dipatuhi oleh setiap insan pers, termasuk jurnalis pelajar. Prinsip-prinsip yang disampaikan meliputi independensi, akurasi, keberimbangan, tidak menerima imbalan, menghormati hak jawab, menjaga asas praduga tak bersalah, serta larangan mencampuradukkan fakta dengan opini.
“Sekali saja wartawan mengorbankan etika, kepercayaan publik runtuh. Ketika kepercayaan runtuh, pers kehilangan martabatnya,” katanya.
Selain itu, ia memaparkan dasar-dasar jurnalistik, mulai dari pengertian dan fungsi berita, nilai berita (news value), unsur 5W+1H, hingga tahapan peliputan yang benar, termasuk teknik wawancara, pencatatan data, dan verifikasi informasi.
Pada sesi kaidah penulisan, Joni menekankan pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana, lugas, dan presisi. Ia menjelaskan bahwa struktur penulisan berita harus dimulai dari judul yang informatif, teras berita yang kuat, hingga tubuh berita yang runtut dan mudah dipahami pembaca.
“Bahasa jurnalistik harus jernih. Jika pembaca bingung, berarti penulis gagal,” tegasnya.
Ketua PWI Tanah Datar, Chandra Antoni, S.E., mengapresiasi antusiasme para siswi yang mengikuti pelatihan di sekretariat PWI.
“PWI tidak hanya menaungi wartawan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk membina generasi muda agar melek informasi dan beretika,” ujarnya.
Ketua Bidang Kebudayaan PWI Tanah Datar, Meriyanto, menilai jurnalistik pelajar memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi.
“Jurnalistik adalah bagian dari kebudayaan berpikir. Jika ditanamkan sejak dini, budaya hoaks bisa ditekan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina PWI Tanah Datar, Yuldaveri, S.Sos, menegaskan pentingnya pendidikan jurnalistik sejak usia sekolah.
“Pers yang kuat lahir dari masyarakat yang cerdas dan berintegritas. Pelajar hari ini adalah fondasi pers masa depan,” ujarnya.
Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik, Erlina Susanti, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas pelatihan yang diikuti 16 orang siswi tersebut.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena anak-anak tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami etika dan tanggung jawab jurnalistik,” katanya.
Salah seorang peserta, Laura Leatemia, mengaku pelatihan tersebut memberikan pemahaman baru.
“Kami jadi sadar bahwa menulis berita harus jujur, berimbang, dan tidak merugikan orang lain,” ujarnya.
Kegiatan pelatihan dasar jurnalistik ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam membentuk jurnalis pelajar yang kritis, beretika, dan berintegritas di tengah derasnya arus informasi digital.
Joni Hermanto, S.H., dikenal sebagai advokat yang aktif dalam isu-isu hukum, kebebasan pers, serta literasi publik. Selain menjalankan profesi sebagai lawyer, ia juga konsisten terlibat dalam berbagai forum edukasi, diskusi hukum, dan pelatihan jurnalistik, khususnya yang berkaitan dengan etika jurnalistik, hukum pers, dan tanggung jawab sosial media.
Figur Joni Hermanto dipandang mampu menjembatani perspektif hukum dan jurnalistik secara kritis. Pendekatan akademis yang dikombinasikan dengan pengalaman praktik menjadikan materi yang disampaikannya tajam, kontekstual, dan relevan dengan tantangan arus informasi di era digital.(**)







