TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID – Nagari Muaro Ambius di Kecamatan Batipuh Selatan menjadi salah satu wilayah paling terdampak bencana alam yang melanda Tanah Datar. Hujan berkepanjangan disertai luapan material dari area hulu sungai menjadikan nagari ini terputus sepenuhnya dari akses darat. Hingga laporan ini ditulis, jalur menuju permukiman masih belum dapat dilalui kendaraan.
Gelombang banjir bandang yang membawa lumpur pekat, pasir, bebatuan besar, serta tumpukan kayu, menerjang pemukiman warga dalam hitungan menit. Hampir seluruh rumah di nagari tersebut terdampak. Menurut keterangan warga setempat, sekitar 90 persen hunian dipenuhi material setinggi lutut hingga lebih dari satu meter, memaksa penduduk meninggalkan tempat tinggal mereka.
Akibat kondisi tersebut, sedikitnya 450 jiwa kini mengungsi di Balai Nagari Muaro Ambius dan tenda darurat yang didirikan secara swadaya menggunakan tenda pesta. Fasilitas pengungsian itu terbatas, tidak memiliki sekat, sanitasi minim, dan tidak dirancang untuk menampung pengungsi dalam jumlah besar.
Tak hanya permukiman, lahan pertanian milik warga pun tak luput dari kerusakan. Ratusan hektare sawah tertimbun material banjir, sehingga potensi gagal panen sangat tinggi. Padahal sektor pertanian adalah sumber penghidupan utama masyarakat Muaro Ambius.
Lebih jauh, jaringan listrik padam total sejak peristiwa bencana terjadi. Pemadaman ini menghambat aktivitas warga, mulai dari penerangan malam hari, akses komunikasi, hingga penyimpanan bahan makanan. Kondisi tersebut memperberat situasi pengungsian, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, dan lansia.
Seorang warga yang ditemui di lokasi mengungkapkan betapa sulitnya situasi yang mereka hadapi.
“Kami bertahan dengan apa yang tersedia. Stok makanan semakin menipis. Anak-anak dan orang tua kami yang sudah lanjut usia paling rentan. Kami takut kalau hujan turun lagi,” ujar warga tersebut, meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Hingga kini, penanganan resmi dari pemerintah dan lembaga terkait belum mencapai wilayah ini. Pengungsi masih mengandalkan bantuan spontan dari masyarakat sekitar dan donasi perantau melalui jaringan informal keluarga. Sementara itu, lokasi pengungsian belum memiliki tempat tidur memadai, akses air bersih sangat terbatas, dan ancaman penyakit mulai mengintai akibat genangan lumpur yang belum dapat dibersihkan.
Selain krisis logistik, warga juga menghadapi keterisolasian informasi. Tanpa akses komunikasi yang stabil, sebagian besar mereka tidak mengetahui sejauh mana penanganan bencana sedang diupayakan oleh pemerintah. Kondisi cuaca yang tidak menentu menambah kecemasan, karena potensi longsor susulan masih mengancam area tebing di sekitar permukiman.
Masyarakat Muaro Ambius berharap adanya langkah cepat dan terukur dari pihak berwenang. Warga meminta pemerintah daerah, BPBD, serta unsur TNI dan Polri untuk segera melakukan evakuasi lanjutan dan distribusi bantuan. Mengingat jalur darat yang lumpuh, warga mendorong agar penyaluran logistik dilakukan melalui jalur darurat, mobilisasi perahu, atau bila perlu memanfaatkan dukungan udara.
Di tengah berbagai keterbatasan, solidaritas lokal tetap kuat. Namun, energi swadaya tidak akan bertahan lama tanpa dukungan dari lembaga resmi yang memiliki sumber daya dan wewenang.
Jika cuaca tidak membaik dalam beberapa hari ke depan, Muaro Ambius berpotensi menghadapi kondisi kemanusiaan yang lebih serius, terutama bagi kelompok rentan yang tidak memiliki alternatif tempat tinggal dan pemenuhan kebutuhan dasar.(**)






