ENREKANG, LacakPos.co.id – Kemarau berkepanjangan yang menyebabkan keterbatasan air mendorong Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Anggeraja bersama masyarakat menggelar Salat Istisqa di Lapangan Olahraga Haji Andi Liu, Cakke, Selasa (1/9/2026).
Salat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Ribuan jamaah dari berbagai elemen masyarakat mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh kekhusyukan.
Salat Istisqa dipimpin Ustaz Mu’syirul Haq, S.H., yang juga merupakan Imam Masjid Besar Al Hadis. Sementara itu, khutbah disampaikan Ustaz Rahmat Al-Amin dengan tema “Membuka Pintu Rahmat Allah dengan Taubat dan Istighfar.”
Dalam khutbahnya, Ustaz Rahmat mengatakan, masyarakat berkumpul dengan kebutuhan yang sama, yakni mengharapkan turunnya hujan untuk memenuhi kebutuhan manusia maupun tanaman yang menjadi sumber kehidupan.
“Hari ini kita tidak datang untuk mencari siapa yang harus disalahkan. Kita datang untuk mengakui kelemahan kita sebagai hamba yang membutuhkan Tuhannya,” ujarnya.
Ia mengajak jamaah menjadikan pelaksanaan Salat Istisqa sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, serta memohon ampun atas berbagai kesalahan dan dosa yang dilakukan, baik secara pribadi maupun bersama-sama.
Menurutnya, setiap orang perlu melihat kembali kewajiban yang mungkin selama ini dilalaikan, ucapan yang pernah menyakiti orang lain, hak sesama yang belum ditunaikan, hingga kurangnya rasa syukur atas rezeki yang telah diterima.
“Pagi ini kita berkumpul untuk mengintrospeksi diri masing-masing. Mari kita meluruskan niat, memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT,” katanya.
Ustaz Rahmat kemudian mengutip firman Allah SWT dalam QS. Nuh ayat 10-11 yang berbunyi:
“Maka aku berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat.”
Ia menegaskan bahwa istighfar tidak semestinya hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi harus diikuti dengan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau selama ini kita menzalimi orang lain, mari kita hentikan. Kalau selama ini mengambil hak orang lain, maka kita kembalikan. Kalau selama ini bermusuhan, mari kita berdamai. Kalau selama ini jauh dari Allah, mari kita kembali mendekatkan diri kepada-Nya,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan jamaah tentang makna musibah sebagaimana disebutkan dalam QS. Asy-Syura ayat 30.
Menurutnya, ayat tersebut bukan untuk dijadikan alasan menuduh atau menyalahkan orang lain, melainkan menjadi bahan evaluasi bagi setiap pribadi.
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak kesalahan,” demikian pesan yang disampaikannya.
Lebih lanjut, Ustaz Rahmat menekankan bahwa Salat Istisqa bukan semata-mata permohonan agar air turun dari langit, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT.
“Istisqa bukan hanya tentang meminta air dari langit. Istisqa adalah tentang memperbaiki hubungan kita dengan pemilik langit dan bumi,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh jamaah memperbanyak istighfar dan sedekah, membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, meninggalkan permusuhan, saling memaafkan, serta kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Hari ini kita telah mengakui bahwa kita lemah. Maka jangan pulang dengan hati yang sama. Pulanglah dengan tekad untuk menjadi lebih dekat kepada Allah, memperbaiki salat, meninggalkan maksiat, dan memperbaiki hubungan dengan sesama,” tandasnya.
Pelaksanaan Salat Istisqa tersebut menjadi bentuk kebersamaan masyarakat Anggeraja dalam menghadapi dampak kemarau panjang, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kepedulian sosial, memperkuat spiritualitas, dan terus berikhtiar menghadapi kondisi kekeringan. (atta)






