Relawan Masak 2.500 Nasi Bungkus Setiap Hari untuk Korban Banjir Bandang di Batipuh Selatan

Foto : Di halaman SDN 05 Nagari Baru Taba, puluhan relawan bergerak tanpa henti di Dapur Umum Posko Utama Penanggulangan Bencana, Rabu (03/12)/Dok. Prokopim

TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID — Aroma tumisan bumbu menyeruak di tengah udara dingin Batipuh Selatan. Di halaman SDN 05 Nagari Baru Taba, puluhan relawan bergerak tanpa henti di Dapur Umum Posko Utama Penanggulangan Bencana, Rabu (03/12). Panci besar berderet, kompor medan menyala, dan suara hiruk-pikuk dapur menjadi penguat harapan bagi ribuan warga terdampak banjir bandang dan tanah longsor.

Setiap hari, sejak pagi buta hingga malam, para relawan menyiapkan sekitar 2.500 paket nasi bungkus untuk dibagikan kepada korban dan pengungsi di seluruh wilayah Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar.

Di balik ritme cepat dapur umum itu, ada Upiak, perempuan paruh baya yang menjadi juru masak utama. Tangannya cekatan mengaduk wajan besar berisi sambal dan sayur. “Kami mulai dari subuh. Biar para pengungsi tidak menunggu terlalu lama. Yang penting perut mereka terisi, minimal tiga kali sehari,” ujar Upiak sambil tersenyum tipis meski kelelahan jelas terlihat di wajahnya.

Tak hanya memasak — menjaga harapan

Dapur umum bukan sekadar ruang memasak. Di sinilah para relawan saling menopang. Mereka mengupas bawang, mencuci beras, menakar lauk, dan membungkus makanan. Semuanya dilakukan bergantian tanpa memandang usia atau latar belakang.

Tole, relawan muda yang bertugas mengoordinasikan pembagian bantuan logistik, mengaku pekerjaan ini lebih dari sekadar tugas sosial.
Banyak yang kehilangan rumah. Ada yang tak punya pakaian lagi selain yang mereka pakai. Jadi makanan ini bukan sekadar nasi bungkus—ini energi buat mereka bertahan,” kata Tole.

Suara pengungsi: ‘Makanan ini penyambung hidup kami’

Para warga yang kehilangan tempat tinggal mendirikan tenda darurat di sekitar posko. Di antara mereka, ada Galadia, seorang ibu dua anak yang masih terlihat cemas memikirkan masa depan.
Waktu banjir datang, kami tak sempat selamatkan apa-apa. Semua hanyut. Anak-anak masih trauma. Tapi tiap kali nasi bungkus datang, saya merasa lega sedikit. Setidaknya hari ini kami tidak kelaparan,” ungkapnya, menahan air mata.

Bagi pengungsi seperti Galadia, nasi bungkus sederhana itu bukan hanya makanan—ia simbol kehadiran orang-orang yang masih peduli.

Logistik dan koordinasi untuk ribuan korban

Proses penyediaan makanan melibatkan koordinasi lintas sektor: relawan komunitas, perangkat nagari, TNI/Polri, serta pemerintah daerah. Bahan baku diperoleh dari donasi warga, pasokan pemerintah, dan bantuan berbagai lembaga filantropi. Beras, telur, sarden, sayuran, dan lauk sederhana menjadi menu harian yang harus diolah cepat namun tetap layak konsumsi.

Selain produksi ribuan paket makanan per hari, tim distribusi juga harus menjangkau titik-titik pengungsian terpencil yang akses jalannya terganggu material longsor. Distribusi dilakukan dengan kendaraan bak terbuka, motor trail, dan bahkan berjalan kaki ketika situasi memaksa.

Dapur umum sebagai pusat solidaritas

Kehadiran dapur umum ini terbukti menjadi tulang punggung penanganan darurat. Bukan hanya memberi makan, tapi juga menjadi ruang perjumpaan: warga, relawan, dan aparat bekerja menyatukan tenaga. Di tengah duka, mereka menemukan kekuatan kolektif—pantang menyerah dan saling jaga.

Upiak kembali menatap panci besar di depannya, seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri maupun orang lain.
Kami bukan pahlawan. Kami hanya orang yang tahu rasanya kalau keluarga lapar. Selama kami masih kuat, kompor ini tidak akan padam,” katanya pelan.

Di Tanah Datar yang masih berduka, api di dapur umum ini menjadi titik kecil penerang bagi ribuan jiwa: bukti bahwa ketika bencana menghantam, kemanusiaan justru bangkit paling terang.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *