TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID – Di tengah debu lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan raut lelah para penyintas yang masih terlihat jelas di wajah mereka, suasana di Posko Bantuan Utama Nagari Batu Taba pada Rabu siang berubah menjadi lebih hidup. Ratusan orang yang sebelumnya sibuk dengan antrean logistik dan urusan tenda pengungsian, mendadak berhenti sejenak ketika iring-iringan rombongan pejabat tiba. Bukan sekadar kunjungan formal, kehadiran Anggota DPR RI Andre Rosiade membawa napas baru bagi warga yang sedang berjuang keluar dari keterpurukan.
Setelah bencana banjir, banjir bandang, dan galodo merusak pemukiman serta akses utama di beberapa titik Tanah Datar, masyarakat terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi sementara. Di tempat inilah paket bantuan diserahkan: sembako untuk kebutuhan harian, bantal dan selimut agar malam-malam di tenda tak terlalu dingin, kasur darurat untuk lansia dan anak-anak, serta generator listrik yang membantu dapur umum dan penerangan. Atmosfer yang sebelumnya muram berubah lebih hangat saat tumpukan bantuan dikeluarkan dari kendaraan, satu demi satu.
Bupati Tanah Datar Eka Putra, yang hadir bersama Wakil Bupati Ahmad Fadly, menerima kedatangan tamu tersebut di hadapan jajaran pejabat daerah dan unsur Forkopimda. Tampak pula Anggota DPRD Provinsi Rony Mulyadi, Bupati Solok, unsur DPRD Tanah Datar, Dandim 0307, Kapolres Tanah Datar dan Kapolres Padang Panjang, serta kepala OPD terkait. Ruang pertemuan di posko itu terasa penuh, namun yang menguasai pembicaraan bukan sekadar protokol, melainkan aura kelegaan karena ada dukungan nyata.
“Kehadiran Pak Andre hari ini bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga harapan bagi masyarakat kami. Setelah bencana ini, warga membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak ditinggalkan, dan bantuan yang diberikan akan langsung kami salurkan kepada korban,” ujar Bupati Eka Putra.
“Empat unit excavator yang sudah dikirim sebelumnya sangat membantu membuka akses di Lembah Anai. Tanpa alat itu, penyaluran logistik akan tertahan lebih lama dan kondisi warga semakin berat,” jelasnya.
Dalam pernyataan resminya, Bupati Eka Putra mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kontribusi Andre Rosiade. Namun apresiasi itu bukan sekadar basa-basi. Sebelum bantuan logistik ini tiba, empat unit excavator telah lebih dulu didatangkan untuk menembus jalur di Lembah Anai, kawasan vital yang sempat lumpuh akibat timbunan material banjir bandang. Alat berat tersebut langsung bekerja sejak hari sebelumnya: membelah tumpukan lumpur, memecah batu besar, hingga membuka akses yang sempat terputus berhari-hari. Hasilnya, jalur distribusi bantuan menjadi lebih lancar.
Andre menyampaikan bahwa dukungan yang ia berikan bukan sekadar formalitas politis. “Ini bagian dari rasa kemanusiaan,” ujarnya kepada wartawan. Ia menegaskan, bencana bukan peristiwa administratif melainkan tragedi yang menghantam langsung kehidupan masyarakat: anak-anak kehilangan rumah, lansia terpisah dari kerabat, para orang tua berjuang menjaga keluarga mereka tetap bertahan. Dalam kondisi seperti itu, perhatian harus hadir dalam bentuk tindakan konkret.
Ia juga memuji cepatnya respons pemerintah daerah. “Penanganan bencana di Tanah Datar tidak dibiarkan berlarut. Satgas bergerak, OPD bergerak, relawan bergerak,” ujarnya sambil menatap deretan petugas yang masih mengenakan rompi lapangan. Tidak jarang, pekerjaan mereka berlangsung hingga larut malam: memetakan titik longsor, mendistribusikan pakaian hangat, mendampingi warga lanjut usia, atau sekadar membuatkan teh manis untuk ibu-ibu yang tidak berhenti menangis ketika mengingat rumahnya yang hanyut.
“Ini bukan soal politik atau panggung, ini soal kemanusiaan. Kalau masyarakat kita ditimpa bencana, kita wajib hadir dan bergerak,” ungkap Andre Rosiade.
“Seperti yang disampaikan pak Bupati, excavator sudah bekerja sejak kemarin. Hari ini kami tambah bantuan selimut, kasur, genset, dan sembako. Semoga ini sedikit meringankan beban saudara-saudara kita,” katanya.
“Saya melihat sendiri bagaimana para relawan, satgas, dan OPD bergerak cepat. Penanganan di Tanah Datar tidak dibiarkan berlarut-larut, dan itu harus diapresiasi,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Andre juga menyampaikan hal yang memberi harapan: saluran pemerintah pusat turut bergerak. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian besar terhadap pemulihan Sumatera Barat, khususnya setelah serangkaian bencana yang menghantam beberapa kabupaten. Melalui kementerian teknis seperti PU serta koordinasi BNPB, berbagai program tanggap darurat dan pemulihan infrastruktur mulai disusun. Jalur di Silaing dan Lembah Anai ditargetkan kembali normal sebelum musim liburan akhir tahun—sebuah batas waktu yang memberi harapan pada banyak pihak, terutama pelaku ekonomi pariwisata dan warga yang bergantung pada mobilitas daerah.
Setelah rangkaian seremoni singkat tersebut, rombongan tak langsung pulang. Andre dan Bupati Eka Putra menyempatkan diri untuk masuk ke tenda pengungsian. Di sana mereka berbincang langsung dengan warga: seorang ibu yang sudah dua hari tidak tidur nyenyak, seorang bapak yang kehilangan sawah dan ternak, anak-anak yang masih terkejut setiap kali terdengar suara hujan di atap seng. Di ruang berdinding terpal tipis itu, bantuan tidak hanya berupa material, tetapi juga empati—kata-kata sederhana yang menyampaikan bahwa mereka tidak sendirian.
“Kami sudah beberapa hari di sini. Tidur di tikar dingin, anak-anak sering terbangun tengah malam. Bantuan selimut dan kasur ini sangat berarti, setidaknya mereka bisa tidur lebih tenang,” tutur Rika, seorang ibu pengungsi di Batu Taba.
“Yang paling berat itu bukan kehilangan barang, tapi rasa takut kalau hujan turun lagi. Tapi melihat ada banyak pihak datang membantu, rasanya kami sedikit lebih kuat,” ujarnya.
Kunjungan itu ditutup dengan penyerahan dukungan tambahan: uang tunai dan perlengkapan kebutuhan harian untuk keluarga yang paling rentan. Tidak ada mikrofon, tidak ada kamera besar yang merekam, hanya percakapan pelan dan ucapan terima kasih yang diulang-ulang. Namun, bagi warga yang menerimanya, momen kecil itu terasa seperti jeda di tengah badai—sementara, tetapi menenangkan.
“Di hari-hari awal, kami kesulitan akses ke beberapa titik pengungsian. Setelah excavator masuk ke Lembah Anai, jalur terbuka dan logistik bisa mengalir,” kata Randi, relawan dari komunitas lokal.
“Tugas kami mungkin tak terlihat glamor, tapi satu kantong beras, satu kasur, seringkali menyelamatkan orang dari keputusasaan,” tambahnya.
Bencana yang menghantam Tanah Datar bukan hanya ujian infrastruktur, melainkan ujian kemanusiaan. Dari gundukan lumpur yang menutup jalur Lembah Anai hingga deretan tenda darurat di Batu Taba, keberhasilan penanganan tidak diukur dari siapa yang berpidato paling lantang, melainkan dari siapa yang mau bergerak, mengangkat, mengulurkan tangan. Hari itu, di posko sederhana di pinggir jalan, solidaritas mengambil wujudnya—bukan di podium, melainkan di antara warga yang saling membantu untuk bangkit kembali.(**)






