MINSEL, LacakPos.co.id – Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian Yaki atau Monyet Hitam Sulawesi (Macaca nigra), primata endemik Sulawesi Utara yang kini berstatus Kritis (Critically Endangered) dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan.
Ajakan tersebut disampaikan melalui kampanye “Mari Jo Torang Jaga Yaki”, yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak memburu, memperjualbelikan, memelihara, maupun mengonsumsi satwa langka tersebut.
Yaki merupakan primata berciri khas tubuh berwarna hitam, memiliki jambul di atas kepala, serta bagian pantat berwarna merah muda. Selain menjadi salah satu kekayaan hayati Sulawesi Utara, Yaki memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Satwa ini dikenal sebagai penyebar biji alami. Melalui buah yang dikonsumsi dan biji yang tersebar bersama kotorannya, Yaki membantu regenerasi pohon-pohon hutan yang berperan penting dalam menjaga ketersediaan air bersih, menyerap karbon, dan menghasilkan udara yang sehat bagi kehidupan.
Namun, populasi Yaki di alam terus mengalami penurunan akibat hilangnya habitat serta praktik perburuan liar. Karena itu, edukasi kepada masyarakat terus dilakukan oleh berbagai pihak agar pelestarian satwa endemik ini menjadi tanggung jawab bersama.
Di Sulawesi Utara, Yaki banyak dijumpai di kawasan Cagar Alam Tangkoko, Kota Bitung. Sementara di Kabupaten Minahasa Selatan, keberadaan satwa langka ini juga tercatat di sekitar kawasan Air Terjun Desa Wisata Wiau Lapi.
Pemerintah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara dan Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi (YSYS) terus mengajak masyarakat untuk tidak menangkap, membeli, memelihara, memperdagangkan, maupun mengonsumsi Yaki. Masyarakat juga diimbau segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan dugaan perdagangan atau perburuan satwa liar yang dilindungi.
Selain itu, berbagai kegiatan edukasi, seperti Yaki Youth Camp, terus digelar untuk membentuk generasi muda sebagai Yaki Ambassador, yang diharapkan mampu menjadi pelopor pelestarian satwa endemik Sulawesi di masa depan.
Menjelang perayaan Pengucapan Syukur di Kabupaten Minahasa Selatan, Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan mengajak masyarakat menunjukkan rasa syukur dengan menjaga ciptaan Tuhan, termasuk melestarikan Yaki sebagai kekayaan alam Sulawesi.
“Jangan tangkap Yaki, jangan jual Yaki, dan jangan makan Yaki. Mari torang jaga Yaki demi anak cucu di masa depan,” menjadi pesan utama dalam kampanye yang dipersembahkan oleh Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, BKSDA Sulawesi Utara, dan Yayasan Selamatkan Yaki Sulawesi (YSYS).
(Eka Putra)






