SANGIHE, LacakPos.co.id – Senin,1/-2012-Dalam perkembangan kuliner tradisional Kepulauan Sangihe, Pasar Tradisional Towo’e di Tahuna tercatat sebagai salah satu pusat persebaran dan pelestarian makanan berbahan dasar sagu. Sejak awal abad ke-21, pasar ini menjadi ruang penting bagi masyarakat lokal untuk mempertahankan identitas kuliner yang diwariskan turun-temurun.
Pada setiap pagi, terutama pada hari Jumat yang dianggap sebagai hari paling ramai dalam aktivitas perdagangan pasar ini dipenuhi aroma khas halua kanari, lumpiah, bagea, dan berbagai kue sagu lainnya. Harga yang terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp50.000, menjadikan makanan tradisional tersebut mudah diakses oleh masyarakat sekaligus menarik perhatian wisatawan yang berkunjung ke Tahuna.
Salah satu figur yang tercatat dalam lintasan sejarah kuliner Sangihe adalah Anwar Makanaung, seorang pedagang yang sejak lama dikenal menjajakan aneka kue berbahan sagu di Pasar Towo’e. Perannya tidak hanya sebagai penjual, tetapi juga sebagai penjaga tradisi. Anwar, melalui usahanya yang sederhana, berupaya memastikan bahwa makanan khas Sangihe tetap dikenal dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Kisah Anwar mencerminkan kondisi sosial-ekonomi banyak pedagang di pasar tersebut di mana aktivitas berdagang tidak hanya menjadi sumber nafkah, melainkan juga sarana menjaga identitas budaya. Dengan penghasilan dari kue-kue tradisional, ia bahkan dapat menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, sebuah bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan.
Sebagai bagian dari dinamika budaya Sangihe, kue sagu tidak sekadar berfungsi sebagai pangan, tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan tradisi. Setiap transaksi yang terjadi di Pasar Towo’e menjadi penanda bahwa warisan kuliner ini terus hidup berpindah dari tangan para pembuat, ke tangan para pembeli, dan akhirnya ke dalam ingatan kolektif masyarakat.
Hingga kini, Pasar Tradisional Towo’e Tahuna tetap dianggap sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah kuliner Kepulauan Sangihe. Di sana, tradisi bukan hanya dikenang, tetapi dijaga melalui aktivitas sehari-hari yang sederhana namun penuh makna.
(Rinny)







