SAMPANG, LacakPos.co.id – Ribuan santri dan masyarakat tumpah ruah memenuhi Alun-Alun Trunojoyo Sampang, Jumat malam (31/10/2025), dalam resepsi puncak Hari Santri Nasional 2025 yang digelar oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang.
Dengan mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”, acara berlangsung khidmat, meriah, dan penuh semangat kebersamaan. Hadir dalam kesempatan itu Bupati Sampang H. Slamet Junaidi bersama Wakil Bupati H. Ahmad Mahfud, Ketua DPRD Rudi Kurniawan, Kapolres Sampang AKBP Hartono, Dandim 0828 Letkol Czi Dika Catur Yanuar Anwar, serta jajaran Forkopimda, para Kyai, Masayikh, dan pengurus PCNU Sampang.

Tampak pula ribuan santri-santriwati dari berbagai pondok pesantren, ibu-ibu Muslimat NU, Fatayat, IPPNU, Banser, hingga organisasi otonom lainnya memenuhi lapangan utama Alun-Alun Trunojoyo.
Bupati Slamet Junaidi: “Dana UHC Itu Krusial, Tidak Boleh Dikorbankan”
Dalam sambutannya, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi menyampaikan rasa bangga atas semaraknya perayaan Hari Santri tahun ini yang juga menandai satu dasawarsa peringatan Hari Santri Nasional.
“Saya bangga dan sangat mengapresiasi. Baru kali ini diadakan resepsi sebesar ini bersamaan dengan peringatan satu dasawarsa Hari Santri Nasional. Pada periode pertama saya menjabat, kegiatan seperti ini belum pernah dilakukan,” ungkapnya.
Bupati yang akrab disapa Haji Idi itu menegaskan komitmennya untuk terus melibatkan para alim ulama dan kalangan santri dalam setiap proses kebijakan daerah. Ia mencontohkan soal kebijakan anggaran daerah yang sempat terdampak pengurangan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat sebesar Rp98 miliar.
“Saya sudah kumpulkan TAPD. Walaupun ada pengurangan anggaran, saya pastikan dana Universal Health Coverage (UHC) tetap aman. Ini hal yang krusial. Jaminan kesehatan tidak boleh dihapus, karena saya tidak ingin dzolim kepada warga saya,” tegas Bupati.
Ia bahkan menyebut rela memangkas fasilitas dan tunjangan jabatan demi menjamin program UHC senilai Rp53 miliar tetap berjalan untuk masyarakat Sampang.
Alun-Alun Trunojoyo: Bukti Efisiensi dan Cinta Rakyat
Lebih lanjut, H. Slamet Junaidi menegaskan bahwa pembangunan Alun-Alun Trunojoyo merupakan hasil efisiensi dari beberapa OPD, yang kini menjadi kebanggaan dan ikon baru masyarakat Sampang.
“Alun-alun ini dibangun tanpa utang. Semua hasil efisiensi. Sekarang bisa kita lihat, tempat ini meningkatkan ekonomi warga dan membuka peluang usaha kuliner,” katanya.
Bupati juga menanggapi aksi demo yang sempat terjadi di kawasan tersebut. Ia menyayangkan adanya perusakan fasilitas umum, namun tetap membuka diri terhadap kritik.
“Saya tidak anti kritik, tapi mari sampaikan aspirasi sesuai koridor hukum. Saya yakin yang merusak itu bukan warga Sampang, karena warga yang memiliki rasa memiliki tidak akan merusak hasil kerja kerasnya sendiri,” ucapnya tegas.
Tauziyah Gus Reza: Santri dan Kyai Penjaga Peradaban
Acara semakin khidmat saat Katib Syuriah PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah Lirboyo, Dr. KH. Reza Ahmad Zahid (Gus Reza), menyampaikan tausiyah kebangsaan.
Dalam ceramahnya, Gus Reza menekankan pentingnya hubungan ulama dan umara dalam menjaga stabilitas dan kemajuan umat.
“Ada dua golongan di antara manusia, jika keduanya baik maka baiklah masyarakat, yaitu ulama dan umara,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para santri untuk selalu menghormati para guru dan Kyai sebagai sumber ilmu dan berkah.
“Santri yang berani melawan gurunya berarti belum memahami jasa dan adab kepada Kyai. Lihat Mbah Hasyim Asy’ari, sebelum mendirikan NU beliau sowan dulu ke gurunya, KH. Syaikhona Kholil Bangkalan,” tutur Gus Reza.
Sebelum menutup tausiyah, Gus Reza membacakan Puisi Hari Santri yang menggugah semangat ribuan jamaah.
“Kami santri tanpa basa-basi, di sini kami tegak berdiri, berbakti untuk bangsa dan negeri, membela tanah air sampai mati — Hidup Santri! Hidup Santri! Hidup Santri!”
Santunan dan Harapan
Acara ditutup dengan penyerahan santunan kepada para santri dan anak yatim piatu oleh Bupati Sampang bersama Kapolres AKBP Hartono.
Malam itu, Alun-Alun Trunojoyo berubah menjadi lautan manusia yang bershalawat dan bersyukur. Gemuruh takbir, doa, dan semangat kebangsaan menggema di langit Sampang — menegaskan bahwa semangat santri tidak pernah padam untuk menjaga negeri.(az)
Advertorial







