SANGIHE, Lacakpos.co.id – Suasana duka menyelimuti warga setelah dua penambang tradisional kehilangan nyawa akibat tertimbun material tambang pada Jumat (22/8/2025). Upaya mereka menjemput rezeki untuk keluarga berakhir menjadi petaka yang menyayat hati.
Bagi banyak warga, bekerja di tambang bukanlah jalan untuk mencari kekayaan, melainkan desakan hidup yang menuntut. “Hasil yang kami dapat hanya seadanya, cukup untuk kebutuhan sehari-hari, membiayai anak sekolah, bahkan ada yang harus menghidupi anaknya yang kuliah,” tutur SM, seorang penambang, dengan mata berkaca-kaca saat mengenang pedihnya kehilangan dua sahabatnya.

Kedua korban bukan hanya penambang biasa. Salah satunya merupakan perangkat kampung, sementara yang lain masih berstatus mahasiswa. Keduanya berjuang demi menafkahi keluarga, menutup kebutuhan sehari-hari, serta menata masa depan dengan penuh harapan. Kini, kepergian mereka meninggalkan kenangan dan kesedihan yang tak tergantikan bagi keluarga dan orang-orang terdekat.
Meski penuh risiko, tambang rakyat tetap menjadi tumpuan banyak warga di tengah keterbatasan warga berharap, ribuan penambang tradisional dapat difasilitasi secara bijak, bukan dianggap pencuri di tanah kelahiran mereka. “Kami hanya ingin bekerja untuk hidup, bukan merampas apa yang bukan hak kami,” ucapnya lirih.
Kini, air mata keluarga korban masih belum kering. Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan potret perjuangan rakyat kecil yang setiap hari berhadapan dengan maut demi sesuap nasi dan secercah harapan bagi generasi penerusnya.
Hingga kini, masyarakat menanti langkah nyata dari pihak berwenang, agar pekerjaan mereka di tambang rakyat tidak lagi menimbulkan stigma, melainkan diakui sebagai upaya bertahan hidup.
(Rinny)






