‎Satu Nama Dua Kenangan Tajudin dan Gunung Awu

Caption: Tajudin Manabung. (Rinny/LacakPos)

SANGIHE, LacakPos.co.id Ada gunung yang hanya menjadi bagian dari lanskap. Ada pula gunung yang menjadi bagian dari ingatan bagi Tajudin Manabung, Gunung Awu adalah keduanya.

Caption: Gunung awu Sangihe.(ist)

‎Enam dekade lalu, ia mengenal Awu sebagai seorang anak kecil yang harus berlari meninggalkan kampung halaman. Kini, setelah 60 tahun berlalu, ia kembali mendekati gunung itu. Bukan sebagai pengungsi, melainkan sebagai seorang relawan.

‎Kisah itu bermula pada 12 Agustus 1966.
‎Saat itu Tajudin masih duduk di bangku kelas I SD Kendahe. Gunung Awu meletus dan seketika suasana kampung berubah. Kepanikan menyelimuti warga. Rumah-rumah ditinggalkan, sementara masyarakat bergegas mencari tempat yang dianggap lebih aman.

‎Tajudin kecil pun ikut bersama keluarganya meninggalkan kampung mereka mengungsi ke Mesjid Kendahe.Namun pengungsian belum berhenti di sana. Keesokan harinya, proses evakuasi kembali dilakukan. Warga diangkut menggunakan kapal menuju Tahuna. Setibanya di sana, para pengungsi dikumpulkan di gedung gelanggang olahraga yang kini menjadi Taman Kota Tahuna.

‎Sebagian pengungsi bahkan memilih melanjutkan perjalanan lebih jauh hingga ke Bolaang Mongondow.

‎Bagi banyak orang,letusan Gunung Awu 1966 mungkin hanya sebuah catatan dalam buku sejarah sebuah tanggal, sebuah peristiwa, dan angka-angka tentang bencana.

‎Tetapi bagi Tajudin, letusan itu bukan sekadar sejarah,Ia pernah berada di dalamnya,Ia merasakan bagaimana seorang anak harus meninggalkan rumah. Ia merasakan kehidupan di tempat pengungsian. Ia menyaksikan bagaimana sebuah bencana mengubah kehidupan masyarakat dalam sekejap.

‎Kenangan itu kemudian berjalan bersamanya selama puluhan tahun.
‎Hingga akhirnya, pada 2026, Tajudin kembali dipertemukan dengan Gunung Awu tetapi kali ini semuanya berbeda Ia bukan lagi anak kecil yang berlari menjauh dari gunung demi menyelamatkan diri.Ia datang sebagai relawan

‎Pada Sabtu, 12 September 2026, Tajudin bersama relawan lainnya turun melalui jalur Kendahe untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Awu.

‎Langkahnya menuju Awu kali ini tentu membawa perasaan yang jauh berbeda.
‎Jika enam dekade lalu keadaan memaksanya pergi, kali ini ia justru memilih untuk datang datang untuk membantu.

‎”Tentunya saya merasa terharu atas peristiwa yang terjadi di Gunung Awu sekarang,” ujar Tajudin.

‎Ada ironi sekaligus keharuan dalam perjalanan hidupnya pada 1966,Tajudin berlari menjauh dari Awu untuk menyelamatkan diri.
‎Pada 2026, ia justru berjalan mendekati Awu untuk membantu menyelamatkan sesama.

‎Gunungnya masih sama namun waktu telah mengubah Tajudin, anak kecil yang dahulu menjadi bagian dari gelombang pengungsian itu kini tumbuh menjadi seorang lelaki yang memilih berada di garis depan untuk membantu orang lain.

‎Di situlah kisah Tajudin menjadi lebih dari sekadar cerita tentang Gunung Awu.Sebab sejarah tidak selalu tersimpan di balik angka, tanggal, atau dokumen lama. Sejarah juga hidup dalam ingatan manusia dalam cerita orang-orang yang pernah mengalami sendiri sebuah peristiwa dan membawanya sepanjang hidup.

‎Tajudin adalah salah satu saksi yang masih membawa ingatan itu hingga hari ini.
‎Enam puluh tahun setelah Awu membuatnya meninggalkan kampung, ia kembali ke gunung yang sama dengan peran yang berbeda.

‎Dulu Awu membuatnya berlari.Kini Awu membuatnya kembali melangkah.
‎Bukan untuk menyelamatkan dirinya sendirimelainkan untuk menolong sesama.

‎Sebuah perjalanan panjang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu nama :Gunung Awu. ‎(Rinny)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *