TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID – Cuaca ekstrem kembali menghantam Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Hujan yang mengguyur tanpa henti sejak Senin (24/11/2025) sore hingga Selasa siang berubah menjadi bencana yang menekan ribuan warga. Aliran sungai meluap, material lumpur menutup jalan, dan akses antar-jorong terputus.
Di Nagari Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, suasana paling mencekam. Sungai yang biasanya mengalir tenang berubah menjadi massa air bergolak berwarna cokelat tua. Debitnya meningkat dalam hitungan menit, menghantam bibir sungai, mengikis tanah, dan membawa batang kayu besar dari arah hulu.
Malam di Malalo nyaris tanpa tidur. Banyak warga memilih berjaga, menyalakan lampu seadanya di teras rumah sambil memantau gerak naiknya air. Dari kejauhan, derasnya arus terdengar seperti deru mesin besar yang tak pernah padam.
“Pagi tadi sempat reda sebentar. Kami berharap cuaca berakhir sampai di situ. Tapi tak lama langit kembali menghitam dan hujan turun lebih keras. Air sungai langsung naik, deras sekali,” kata Ujang, seorang warga yang memilih mengevakuasi barang-barang berharga ke rumah saudara di dataran lebih tinggi.
Batang pohon, ranting, dan lumpur pekat terbawa arus dan menumpuk di badan jalan. Beberapa kendaraan tidak berani melanjutkan perjalanan karena kondisi licin dan berbahaya. Pengendara roda dua bahkan terpaksa kembali atau menunggu hingga petugas mengamankan jalur.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Datar bergerak di tengah keterbatasan akses. Mereka memetakan titik-titik rawan serta memberikan imbauan langsung kepada masyarakat agar menjauhi sungai, terutama saat langit kembali menggelap.
“Kondisi atmosfer hari ini sangat tidak stabil dan sulit diprediksi. Kami mengingatkan warga untuk tidak lengah, karena peningkatan curah hujan masih mungkin terjadi sewaktu-waktu,” ujar salah seorang petugas BPBD yang berada di lapangan.
Hujan berkepanjangan juga menggenangi area persawahan dan pekarangan rumah. Para petani resah, khawatir tanaman rusak jika intensitas hujan tinggi berlanjut.
Laporan serupa datang dari beberapa daerah lain di Sumatera Barat. Namun, Malalo menjadi titik sorotan utama karena lonjakan debit air yang meningkat ekstrem hanya dalam waktu singkat.
Hingga berita ini diturunkan, langit belum cerah sepenuhnya. Hujan kembali turun dengan intensitas sedang hingga lebat. Ancaman luapan susulan, banjir bandang, dan longsor masih menguar di udara—membuat warga tetap siaga, menunggu kemungkinan terburuk yang bisa datang kapan saja. (**)






