MINSEL, LacakPos.co.id – Aroma ubi rebus, daun kelor, dan ikan segar tercium dari sudut balai desa Amurang Barat pagi itu, Senin 11 Agustus 2025. Namun ini bukan sekadar kegiatan memasak biasa. Di balik meja-meja kayu panjang, para kader Posyandu dan petugas gizi tampak serius mendengarkan instruksi. Mereka sedang belajar lebih dari sekadar resep: mereka sedang meramu masa depan.
Dalam upaya menekan angka stunting dan kekurangan gizi, UPTD Puskesmas Amurang Barat di bawah kepemimpinan Dr. Susi L. Kandow, menggelar pelatihan intensif bagi Tim Pelaksana PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Fokusnya adalah satu: memanfaatkan kekayaan pangan lokal untuk ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan balita bergizi kurang.
“Kita tidak perlu mencari bahan mahal. Alam sekitar kita sudah menyediakan semua yang dibutuhkan untuk makanan bergizi,” ujar Dr. Kandow saat membuka pelatihan. Ia menekankan pentingnya intervensi berbasis komunitas untuk mengatasi permasalahan gizi secara berkelanjutan.
Pelatihan ini tak hanya menyasar teori gizi dan penyusunan menu seimbang, tetapi juga praktik langsung: bagaimana membuat makanan untuk anak usia 12–13 bulan yang padat gizi, namun tetap terjangkau dan akrab dengan lidah lokal. Peserta diajak untuk mengolah bahan seperti umbi lokal, daun kelor, tempe, ikan teri, dan bahan lain yang mudah dijangkau masyarakat desa.
Hadir dalam kegiatan ini perwakilan kader Posyandu, petugas gizi puskesmas, serta Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Amurang Barat bersama para hukum tua. Mereka bahu-membahu menyusun strategi pemberdayaan masyarakat dalam memerangi stunting—bukan dengan slogan, tapi dengan sendok dan semangat.
“Kalau ibu-ibu tahu cara masak yang benar dan paham gizi, anak-anak pasti lebih sehat. Ini ilmu yang akan kami teruskan ke warga,” ujar Maria, seorang kader Posyandu dari Desa Tondei.
Menurut data Kementerian Kesehatan, stunting di Indonesia masih menjadi tantangan nasional, dengan target penurunan angka hingga 14% pada tahun 2024. Upaya di tingkat lokal seperti yang dilakukan Puskesmas Amurang Barat ini menjadi ujung tombak penting dalam pencapaian target tersebut.
Meski pelatihan ini hanya berlangsung satu hari, dampaknya diharapkan jangka panjang. Karena di balik setiap sendok makanan tambahan yang diberikan, ada harapan bahwa tidak ada lagi anak-anak yang tumbuh tanpa gizi cukup, dan ibu-ibu yang kelelahan karena kurang makan.
Dan di sinilah peran gizi berubah menjadi gerakan sosial—dimulai dari dapur, dijalankan oleh masyarakat, dan diarahkan oleh tenaga kesehatan yang berpihak pada kehidupan yang lebih baik.
(Eka Putra)





