SANGIHE – LACAKPOS.CO.ID – Setiap awal Agustus, jalan utama Kota Tahuna, Kepulauan Sangihe, selalu diselimuti nuansa merah dan putih. Deretan bendera berkibar tertiup angin, seakan menyambut datangnya bulan kemerdekaan. Namun, di balik semarak warna kebanggaan bangsa itu, tersimpan kisah perjuangan para pedagang musiman yang datang dari jauh, membawa harapan sekaligus semangat untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.Kamis(31/7-25)
Hajat Sutrajat, perantau asal Jawa Barat, tampak sibuk menata bendera dagangannya di lapak sederhana. Sejak 28 Juli 2025, ia mulai menjual, berbagai ukuran bendera, mulai yang kecil seharga Rp10.000 hingga ukuran besar Rp50.000. Meski lalu-lalang kendaraan cukup ramai, pembeli belum banyak singgah.
“Biasanya mendekati tanggal 17 Agustus baru ramai. Sekarang masih sepi, tapi kami tetap semangat karena momen ini hanya setahun sekali,” ujarnya sambil merapikan bendera yang kusut tertiup angin sore.
Tak jauh dari sana, Heru, pedagang asal Bandung, duduk di kursi plastiknya dengan payung kecil sebagai peneduh. Nasibnya serupa dengan Hajat, dagangan belum banyak terjual. Namun, baginya berjualan atribut merah putih bukan sekadar mencari keuntungan.
“Kami ke sini bukan hanya untuk berdagang, tapi juga ingin melihat semangat masyarakat Sangihe menyambut kemerdekaan,” kata Heru. “Kalau melihat anak-anak membawa bendera kecil sambil tersenyum, itu sudah membuat hati senang.”
Bagi para pedagang musiman ini, Agustus bukan hanya tentang peringatan kemerdekaan. Bulan ini menjadi ruang untuk berjuang mencari rezeki, menabung harapan bagi keluarga di kampung halaman, dan menyaksikan semangat merah putih tetap berkibar di setiap rumah warga Sangihe.
“Selama masih ada yang membeli dan memasang bendera, semangat kemerdekaan tidak akan pernah padam,” ucap Hajat, matanya menatap deretan bendera di lapak kecilnya, saksi bisu perjuangan seorang perantau yang menukar lelah demi semangat kemerdekaan.
(Rinny)







