MINAHASA, LacakPos.co.id – Suasana penuh sukacita, kekeluargaan dan nuansa adat Minahasa mewarnai pelaksanaan Syukur Balas Gereja atas pernikahan Zachary Oktavianus Gerson Pioh, S.E. dan Sarah Malena Andrea Dondokambey, S.H., M.H., yang digelar di Gedung Wale Ne Tou Minahasa, Minggu (4/10/2026).
Acara berlangsung meriah dan khidmat. Sentuhan tradisi Minahasa yang begitu kuat membuat momentum syukur keluarga tersebut semakin istimewa. Para tamu undangan, termasuk jajaran pemerintahan dan keluarga besar kedua mempelai, hadir dengan mengenakan pakaian adat Minahasa.
Zachary dan Sarah didampingi kedua orang tua masing-masing, yakni Bupati Minahasa Pnt. Dr. Robby Dondokambey, S.Si., M.A.P., dan Ibu Pnt. Martina W. Dondokambey-Lengkong, S.E., serta Bapak Edwin Pioh, S.E., dan Ibu Dkn. Glady Kandouw, S.E.
Hadir dalam acara tersebut Mantan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, S.E., Anggota DPR RI Rio Dondokambey, Ketua DPRD Kota Manado Dra. Aaltje Dondokambey, M.Kes., Apt., Wakil Bupati Minahasa Vanda Sarundajang, S.S., M.A.P., Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Dr. Lynda D. Watania, M.M., M.Si., jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa, pejabat eselon II dan III, ASN Sekretariat Daerah, ASN Sekretariat DPRD, para Hukum Tua dan Lurah se-Kabupaten Minahasa, serta keluarga dan tamu undangan lainnya.
Kehadiran para pejabat dan masyarakat dengan balutan pakaian adat semakin memperkuat atmosfer budaya Minahasa dalam acara tersebut. Bukan sekadar perayaan pernikahan, momentum ini menjadi gambaran eratnya hubungan kekeluargaan yang dipersatukan dalam nilai adat, gereja dan kehidupan bermasyarakat.
Tiga Batu Dodika, Fondasi Rumah Tangga dan Keluarga
Mewakili kedua keluarga, Mantan Wakil Gubernur Sulawesi Utara Drs. Steven Octavianus Estefanus Kandouw, menyampaikan pesan mendalam mengenai makna rangkaian pernikahan yang telah dilalui kedua mempelai.
Menurutnya, perkawinan Zachary dan Sarah telah melewati rangkaian yang tidak hanya berkaitan dengan kehidupan gerejawi, tetapi juga hukum negara dan adat.
Ia menggambarkan ketiga unsur tersebut sebagai “Tiga Batu Dodika”, yang menjadi simbol penopang kehidupan rumah tangga dan keluarga dalam budaya Minahasa.
“Setelah melalui rangkaian perkawinan, aturan gereja, aturan hukum positif negara, dan hari ini melalui acara adat, semuanya menjadi tiga Batu Dodika, sebagai penopang rumah tangga dan keluarga Minahasa,” ujar Kandouw dalam sambutannya.
Ia berharap kelengkapan seluruh rangkaian tersebut menjadi awal yang baik bagi terbentuknya keluarga baru yang senantiasa takut akan Tuhan, menghormati hukum, serta menjunjung tinggi adat dan nilai-nilai kehidupan.
Kandouw juga menyoroti pertemuan dan penyatuan keluarga besar dari berbagai latar belakang subetnis Minahasa dalam pernikahan tersebut.
Menurutnya, penyatuan keluarga dari berbagai unsur tersebut menjadi sebuah momentum yang membawa pesan persaudaraan dan kebersamaan.
“Kita bersyukur hari ini karena kita boleh menyaksikan bagaimana keluarga dari Tonsea, Tontemboan dan lainnya boleh bersatu. Mudah-mudahan ini membawa angin segar bagi seluruh keluarga besar,” ungkapnya.
“Baku-Baku Bae, Baku-Baku Sayang”
Dalam pesan penutupnya, Kandouw mengingatkan kedua keluarga untuk terus memegang nasihat para leluhur dan orang tua dalam membangun kehidupan bersama.
Ia menekankan pentingnya semangat “baku-baku bae, baku-baku sayang”—saling berbuat baik dan saling menyayangi—sebagai bagian dari nilai persaudaraan yang harus terus dijaga.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan hanya menyatukan dua pribadi, tetapi juga mempertemukan dua keluarga besar dalam satu ikatan persaudaraan.
“Pesan saya singkat saja, sesuai yang sehari-hari kita dengar dan yang dipesankan oleh orang-orang tua. Baku-baku bae, baku-baku sayang. Ini yang bisa saya sampaikan,” katanya.
Di penghujung sambutan, Kandouw menyampaikan doa agar Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai Zachary dan Sarah serta kedua keluarga besar, sehingga rumah tangga yang dibangun dapat menjadi keluarga yang kokoh, harmonis dan berlandaskan iman.
Syukur Balas Gereja tersebut pun menjadi momentum yang bukan hanya merayakan kebahagiaan kedua mempelai, tetapi juga memperlihatkan kuatnya nilai iman, adat dan kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat Minahasa.
Tiga Batu Dodika yang menjadi pesan utama dalam acara itu seakan menegaskan bahwa sebuah keluarga akan semakin kuat ketika ditopang oleh iman, hukum dan adat, serta dijalani dengan kasih dan semangat persaudaraan. ( B.Lengkong)








