TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID – Di tengah suasana pengungsian yang serba darurat setelah banjir bandang dan longsor melanda kawasan Tanjung Mutiara, pemerintah daerah mengambil langkah intensif untuk menjaga kesehatan para warga terdampak. Selama hari-hari penuh kepanikan itu, bukan hanya makanan, selimut, atau pelayanan medis yang menjadi kebutuhan utama—pengelolaan sampah di area pengungsian justru muncul sebagai tantangan krusial.
Sejak tenda-tenda pengungsian didirikan, aktivitas para relawan, dapur umum, hingga penyaluran logistik memicu peningkatan volume sampah yang tak terhindarkan. Sisa makanan, pembungkus bantuan sembako, kardus, plastik air minum, hingga sampah medis ringan menumpuk di setiap sudut posko. Jika tidak tertangani dengan baik, tumpukan ini dapat menjadi sumber bau, sarang lalat, dan pada akhirnya memicu penyakit. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Rabu (03/12).
Dinas Perumahan, Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) bergerak cepat. Tim lapangan mereka bekerja setiap hari — tanpa memandang cuaca yang berangin atau tanah yang masih berlumpur. Petugas mendatangi titik-titik pengumpulan sampah di sekitar tenda, dapur umum, hingga area distribusi bantuan, lalu mengangkutnya secara berkala ke lokasi pembuangan sementara. Praktik ini dilakukan bukan sekadar rutinitas teknis, tetapi sebagai benteng pertama dalam menjaga kualitas kesehatan ribuan jiwa yang kini hidup di tempat penampungan.
Seorang petugas yang terlibat dalam operasi lapangan menyampaikan bahwa lonjakan volume sampah mulai terasa sejak hari pertama posko beroperasi. Arus bantuan yang datang dari berbagai instansi, komunitas, hingga masyarakat umum membawa efek domino: setiap kardus mie instan, setiap plastik air mineral, setiap alat masak sekali pakai meninggalkan residu. “Kalau tidak diangkut setiap hari, tiga hari saja sudah bisa jadi gunung sampah,” ujarnya singkat sambil menurunkan kantong hitam besar dari gerobak.
Upaya Dinas Perkim LH tak berhenti pada pengangkutan rutin. Edukasi sederhana namun penting dilakukan langsung ke pengungsi dan relawan: pisahkan sampah organik dari plastik, jangan membuang di saluran air, dan gunakan kantong khusus sampah yang sudah disediakan. Di area dapur umum, petugas mengimbau penggunaan kantong plastik yang cukup kuat dan tidak mudah sobek, agar cairan sisa makanan tidak bercampur dengan sampah kering. Arahan tersebut membantu mengurangi bau menyengat serta menjaga kebersihan permukaan tanah yang masih basah akibat sisa banjir.
Sementara itu, di balik hiruk-pikuk penyaluran bantuan, kehadiran petugas lingkungan hidup sering luput dari perhatian publik. Namun, pekerjaan sunyi merekalah yang menciptakan suasana relatif aman dan nyaman bagi para pengungsi—terutama anak-anak dan lansia yang paling rentan terhadap penyakit. Tanpa pengelolaan sampah, risiko demam berdarah, diare, infeksi kulit, hingga kontaminasi air akan meningkat pesat.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa tugas menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab petugas. Relawan, donatur, hingga masyarakat yang datang berkunjung diimbau untuk memperhatikan limbah yang mereka hasilkan. Satu bungkus makanan yang dibuang di sembarang titik bisa berdampak buruk, terlebih dalam kondisi darurat ketika fasilitas kesehatan terbatas.
Di saat bencana telah merenggut rumah dan harta benda warga, menjaga lingkungan pengungsian tetap bersih adalah bentuk perlindungan paling dasar. Dalam situasi penuh ketidakpastian, langkah sederhana seperti memilah sampah dan membuangnya pada tempat yang benar bisa menjadi wujud solidaritas nyata.
Dengan koordinasi yang terus berjalan, Pemkab Tanah Datar berharap pengelolaan limbah di posko pengungsian tetap terkendali hingga masa darurat berakhir dan para pengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman. Upaya ini bukan sekadar manajemen sampah—tetapi komitmen menjaga martabat dan kesehatan manusia yang tengah berada dalam kondisi paling rentan.(**)






