Merajut Sejarah dan Tradisi, Tulude 2025 Hadir Penuh Makna

Penjabat Bupati Kabupaten Kepualaun Sangihe Albert Huppy Wounde, SH.MH duduk didepan bagian tenga memakai Juba adat warna kuning bersama istrinya. (ist)

SANGIHE – LACAKPOS.CO.ID Perayaan Tulude 2025 kembali digelar dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan berlangsung di Papanuhung Tampungang Lawo Santiago Tahuna, pada (31/01/2025).

Tradisi yang diwarisi oleh masyarakat Sangihe, Sulawesi Utara, ini menjadi momen penting untuk merayakan rasa syukur atas berkah kehidupan dan memohon perlindungan di tahun yang baru.

Hadir berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, pemerintah daerah, serta wisatawan. (ist)

Acara yang berlangsung dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, pemerintah daerah, serta wisatawan yang ingin merasakan keunikan budaya Sangihe. Prosesi utama, yaitu upacara adat Tulude, dilakukan dengan pemotongan kue adat Tamo dan doa bersama sebagai simbol pengharapan untuk masa depan yang lebih baik.

Momentum yang bersejarah itu , Penjabat Bupati Kabupaten Kepualaun Sangihe Albert Huppy Wounde S,H . M,H Menyampaikan bahwa Tulude bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi sarana mempererat persatuan masyarakat serta menjaga warisan budaya leluhur.
“Melalui Tulude dan HUT Daerah Kabupaten Kepualaun Sangihe yang ke 600 Tahun , kita tidak hanya merayakan rasa syukur, tetapi juga mengingat pentingnya kebersamaan dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu kita,” ujarnya.

Selain prosesi adat, perayaan Tulude 2025 juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya, seperti tarian tradisional, musik khas Sangihe, serta pameran Harmoni Sangihe yang menjadikan taman kota Tahunaenjadi pusat hiburan . Kemeriahan ini diharapkan dapat menarik perhatian seluruh elemen masyarakat agar semakin mencintai budaya daerahnya.

Dengan semangat merajut sejarah dan tradisi, Tulude 2025 menjadi pengingat bahwa kearifan lokal adalah bagian penting dari identitas bangsa. Perayaan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga momentum refleksi dan harapan untuk tahun yang lebih baik.

(**Rinny)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *