Gelombang Pengungsi Malalo Tiba di Batu Taba Setelah Terisolasi Bencana

Foto : Warga yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor berada di Posko pengungsian di Nagari Batu Taba, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Senin (1/12/2025)/ Dok. ANTARA FOTO/Wawan Kurniawan

TANAH DATAR – LACAKPOS.CO.ID –Ribuan langkah kaki saling bersilangan di halaman Posko Pengungsian Nagari Batu Taba, Kecamatan Batipuh Selatan, Tanah Datar. Sejak menjelang akhir November, lokasi ini berubah menjadi ruang perlindungan darurat bagi ratusan warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah banjir bandang dan tanah longsor menyapu wilayah Guguak Malalo serta Padang Malalo. Di posko itu, keluarga-keluarga duduk berdesakan, sebagian berselimut tipis, sebagian lainnya berusaha menenangkan anak-anak yang masih histeris karena trauma bencana. Aroma kopi panas dari dapur umum sesekali mengisi udara—menjadi satu-satunya penghangat di tengah suhu malam yang menusuk.

Di meja komando, para petugas tanggap bencana tampak sibuk menyelesaikan pendataan. Berdasarkan laporan terbaru Posko Induk Kabupaten Tanah Datar, sedikitnya lima ratus jiwa telah berhasil dievakuasi ke Batu Taba. Angka ini kemungkinan bertambah seiring proses penyisiran lanjutan di beberapa titik yang masih sulit dijangkau. Petugas menyebut, jalur evakuasi yang semula difokuskan melalui akses darat, nyaris tidak dapat digunakan karena jalan ke dua nagari terdampak tertutup material longsor, bebatuan besar, serta timbunan lumpur yang mengeras.

Alhasil, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah mengandalkan jalur air. Perahu kecil milik nelayan dan kapal bantuan menjadi jembatan hidup bagi warga. Dari tepi Danau Singkarak, tim penyelamat bergerak bolak-balik mengangkut para korban. Perjalanan itu bukan sekadar menantang—ia berisiko. Ombak danau berubah-ubah, cuaca sulit diprediksi, dan arus angin malam kerap memukul sisi kapal. Namun di tengah keterbatasan, jalur air justru menjadi jalur paling aman untuk memindahkan warga, terutama lansia, ibu hamil, dan anak-anak.

Sesampainya di posko, para pengungsi tidak lagi semata membawa tas pakaian seadanya. Mereka datang dengan kelelahan yang menumpuk: kelelahan fisik setelah bertahan di area bencana, dan kelelahan batin karena kehilangan tempat tinggal, sawah, ternak, atau bahkan anggota keluarga. Di sudut tenda darurat, beberapa warga saling berbagi cerita. Ada yang mengenang detik-detik air bah menerjang tanpa ampun; ada yang hanya diam, menatap kosong, seolah masih belum sepenuhnya percaya bahwa hidup mereka berubah dalam satu malam.

Sementara itu, relawan, aparat pemerintah, tenaga medis, dan anggota BPBD terus bekerja di balik layar. Bantuan logistik disortir, distribusi air bersih diatur, layanan kesehatan darurat dibuka, dan ruang trauma healing sederhana mulai dirancang bagi anak-anak. Setiap orang bergerak dalam ritme yang sama: berusaha mengembalikan rasa aman bagi mereka yang tiba dengan tubuh gemetar, pakaian basah, serta pandangan mata yang menyimpan ketakutan.

Di Batu Taba, posko pengungsian bukan sekadar tempat berteduh dari hujan atau tempat tidur sementara. Ia menjelma menjadi ruang persinggahan manusia—ruang di mana ratusan warga yang tersapu bencana berusaha memulihkan diri, sembari menanti kabar kapan tanah kampung yang mereka tinggalkan akan kembali dapat dipijak.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *