SANGIHE – LACAKPO.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe meresmikan jembatan penghubung antara Lindongan 3 dan Lindongan 4 di Kampung Dagho, Kecamatan Tamako. Jembatan yang diberi nama “Jembatan Pak Harto” ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah kampung dan warga masyarakat melalui pendekatan gotong royong.

Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, S.E., M.M., yang menyampaikan apresiasi atas peran aktif warga dalam menyelesaikan proyek infrastruktur vital tanpa bergantung sepenuhnya pada anggaran pemerintah.
“Jembatan ini adalah contoh konkret pembangunan yang berbasis kearifan lokal. Gotong royong masih menjadi nilai penting di tengah masyarakat kita, dan saya sangat menghargai itu,” ujar Bupati Thungari dalam sambutannya, Jumat (1/8).
Pembangunan jembatan tersebut bermula dari kerusakan parah akibat banjir pada tahun 2022 yang menyebabkan jembatan sebelumnya tidak lagi dapat digunakan. Dampaknya, mobilitas warga terganggu, termasuk akses ke lahan pertanian, sekolah, dan pasar.
Kapitalaung Kampung Dagho, Harto A. Kroma, menjelaskan bahwa proyek pembangunan dilakukan secara swadaya dengan melibatkan masyarakat setiap hari Sabtu selama hampir enam bulan.
“Pembangunan ini dilakukan selama 26 kali pertemuan kerja gotong royong, dari Februari hingga Juli 2025. Anggaran keseluruhan Rp325 juta, dengan kontribusi dana pribadi sebesar Rp175 juta dan sisanya berasal dari partisipasi masyarakat,” kata Harto.
Dari sisi teknis, jembatan tersebut dibangun dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan potensi bencana, sehingga struktur bagian bawah dirancang kuat untuk menahan arus sungai yang deras saat musim hujan.
Kehadiran jajaran Forkopimda dalam peresmian, termasuk Kapolres dan Dandim 1301/Sangihe, menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap prakarsa masyarakat dalam membangun infrastruktur desa.
Bupati Thungari menekankan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong pembangunan yang berpihak pada rakyat dan berbasis partisipasi publik.
“Kampung Dagho memiliki kontribusi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan. Maka jembatan ini bukan hanya penghubung fisik, tapi juga penggerak ekonomi lokal,” tutupnya.
Jembatan Pak Harto kini tidak hanya menjadi sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga simbol semangat kolektif dan bukti bahwa pembangunan bisa dimulai dari bawah, oleh dan untuk rakyat.
(Rinny)






