TANAHDATAR – LACAKPOS.CO.ID – Upaya pemulihan pascabencana banjir bandang dan bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Tanahdatar pada 2024 terus menunjukkan perkembangan signifikan. Memasuki pertengahan 2026, puluhan keluarga penyintas telah menempati hunian tetap (huntap) yang dibangun pemerintah, sementara rehabilitasi infrastruktur dan pembangunan sarana mitigasi bencana terus dipercepat.
Sebanyak 60 unit hunian tetap telah rampung dan kini dihuni oleh masyarakat terdampak. Di sisi lain, pembangunan kawasan huntap terpadu di Nagari Rambatan juga terus dikebut. Sebanyak 79 unit rumah tambahan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar dua bulan sehingga lebih banyak penyintas dapat segera memperoleh tempat tinggal permanen.
Pembangunan hunian tetap merupakan bagian dari program prioritas Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera dalam fase rehabilitasi permanen. Program tersebut tidak hanya bertujuan menyediakan rumah yang layak huni, tetapi juga mengembalikan rasa aman dan kepastian hidup bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana.
Bagi para penyintas, kehadiran huntap menjadi titik awal untuk kembali membangun kehidupan. Salah seorang penerima manfaat, Dedi Burzal, mengaku keluarganya kini dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang setelah menempati rumah baru.
“Rumah ini nyaman dan fasilitasnya sudah lengkap. Kami sangat bersyukur karena setelah bencana akhirnya memiliki tempat tinggal yang aman untuk keluarga,” ujar Dedi, Senin (29/6/2026).
Selain sektor perumahan, pemerintah juga menggenjot rehabilitasi berbagai infrastruktur yang rusak akibat bencana. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp897 miliar untuk memperbaiki jalan, jaringan irigasi, saluran drainase, serta berbagai infrastruktur dasar lainnya yang menjadi penopang aktivitas masyarakat.
Percepatan pemulihan juga menyasar sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Tanahdatar. Pemerintah berharap perbaikan jaringan irigasi dan akses transportasi dapat mengembalikan produktivitas pertanian sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi warga.
Sementara itu, akses jalan nasional di kawasan Lembah Anai ditargetkan kembali berfungsi normal pada akhir Juli 2026. Beroperasinya jalur tersebut diharapkan mampu memperlancar mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan logistik di Sumatera Barat.
Dukungan terhadap proses rehabilitasi juga datang dari dunia usaha. Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera Barat.
Menurutnya, pembangunan hunian tetap memiliki makna lebih dari sekadar pembangunan fisik karena menjadi fondasi bagi masyarakat untuk bangkit kembali setelah terdampak bencana.
“Sebagai perusahaan yang tumbuh bersama masyarakat Sumatera Barat, kami berkomitmen mendukung setiap upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kami berharap hunian tetap ini menjadi awal kebangkitan masyarakat untuk kembali beraktivitas, membangun perekonomian keluarga, dan menatap masa depan dengan optimistis,” ujarnya.
Bupati Tanahdatar, Eka Putra, mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat agar seluruh program rehabilitasi berjalan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, fokus pemerintah tidak hanya pada pembangunan rumah bagi penyintas, tetapi juga mencakup pemulihan ekonomi, perbaikan infrastruktur, hingga pembangunan sarana pengendali bencana untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang.
“Pemerintah terus mempercepat seluruh proses pemulihan, mulai dari pembangunan hunian tetap, rehabilitasi infrastruktur, pemulihan ekonomi masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur pengendali bencana. Tujuannya agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman, nyaman, dan memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap potensi bencana,” kata Eka Putra.
Sebagai bagian dari upaya mitigasi jangka panjang, pembangunan sabo dam juga terus dipercepat. Dari total 10 unit yang direncanakan, dua unit telah selesai dibangun, sementara delapan unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan dan diharapkan dapat memperkuat sistem pengendalian material banjir serta mengurangi risiko bencana di wilayah terdampak.(**)






