KEPULAUAN MENTAWAI – LACAKPOS.CO.ID – Sebanyak dua belas orang guru honorer dijajaran Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kepulauan Mentawai Sumatera Barat mengaku ditipu oleh Kepala Sekolah (Kepsek) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kepulauan Mentawai H. Alrinaldi, S.Pd bersama seorang pegawai yang menjabat Kasi Bimas Kristen Kemenag Rudi Tambunan senilai ratusan juta rupiah.
Salah seorang korban yang enggan disebutkan identitasnya mengatakan modus yang digunakan Alrinaldi dengan mengiming-imingi korban untuk bisa lolos seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dengan syarat membayar sebesar Rp 120 Juta dengan menyetorkan uang muka sebesar Rp 20 Juta ke rekening bank atas nama R Ferdinand Tampubolon yang ditunjuk Alrinaldi.
“Kejadiannya pada tanggal 25 Maret 2021, saat itu kami sebanyak 7 orang guru honorer MTsN 2 (Mentawai) di telpon pelaku lalu diminta untuk datang ke rumahnya, dirumahnya kami disampaikan bahwa ada kuota CPNS buat kami, dengan syarat kami harus membayar uang muka Rp. 20 Juta, dan sisanya sebesar Rp. 100 Juta dilunasi setelah keluarnya SK,” tuturnya saat berbincang dengan lacakpos.co.id, Sabtu (27/07).
Ia menambahkan, pelaku menjanjikan paling lambat tiga minggu pasca penyetoran uang muka, SK Pengangkatan PNS korban akan keluar. Para korban lalu terperdaya dan langsung mentransfer uang yang diminta pada tanggal 26 Maret 2021, namun nyatanya hingga tiga tahun berlalu para korban tak kunnjung mendapat kejelasan, para korban tidak berani melapor karena diancam pelaku jika melaporkan dirinya ke polisi maka korban juka akan terseret masalah hukum karena korban ia tuding menyuap dirinya.
“Kami gak berani lapor, karena kami ditakut-nakuti bahwa jika kami lapor polisi, maka kami akan terjerat (masalah hukum) juga karena kami dia katakan menyuap dirinya, menyuap darimana, kan dia yang mengiming-imingi kami,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi melalui selulernya H. Alrinaldi, S.Pd tidak membantah dirinya melakukan penipuan, ia menyampaikan dirinya melakukan semua itu atas perintah dari pimpinan.
“Saya hanya bawahan menjalankan perintah yang disampaikan pimpinan dan itu sifatnya perintah,” tegasnya, Sabtu (27/07).
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak ada menerima uang sepeserpun, ia menyampaikan itu kepada para korban untuk dipikirkan dan dipertimbangkan bersama keluarga.
“Saya sampaikan saya diperintah dari kantor, bukan kemauan saya. Sekali lagi mohon maaf saya sudah tua, dan kondisi tubuh saya sudah letih membahasnya silahkan Bapak tanya ke kantor saja,” keluhnya.
Sementara itu, Kasi Bimas Kristen Kemenag Kabupaten Kepuluan Mentawai Rudi Tambunan yang dikatakan korban juga ikut terlibat memilih bungkam saat dikonfirmasi, ia tidak merespon panggilan telpon dan pesan instan lacakpos.co.id yang dikirim melalui WhatsApp pribadinya.
Terpisah,Kapolres Kepuluan Mentawai AKBP Rory Ratno, A, SE, M.M, M.Tr melalui Wakapolres Kompol Yulandy, S.H saat dikonfirmasi menyampaikan pihaknya menghimbau para korban untuk jangan takut membuat laporan polisi agar perkaranya dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Saya persilahkan para korban untuk datang ke kantor membuat laporan pengaduan, nanti saya perintahkan Kasat Reskrim untuk memprosesnya,”tegasnya.(**)
