MC Diduga Sengaja Jatuhkan Harga Diri Peserta Grand Final Momo Sangihe Di Atas Panggung.

Caption: MC/pemandu acara grand final ungke Momo Sangihe 2026(Ferdiland Aucland Lord Moningka),(ist)

 

 

MC Diduga Sengaja Jatuhkan Harga Diri Peserta Grand Final Momo Sangihe Di Atas Panggung.
‎
‎SANGIHE,LacakPos.co.id- Grand Final Pemilihan Momo Ungke Sangihe 2026 menuai protes setelah terjadi kekeliruan dalam penyebutan peserta yang masuk tiga besar di atas panggung. Insiden tersebut memicu kekecewaan dari sejumlah warganet hingga orang tua peserta.(Jumat,21/8-26)
‎
‎Polemik bermula ketika pembawa acara (MC) menyebut peserta nomor urut 8, Lucy Mandagi, sebagai salah satu peserta yang masuk tiga besar Momo Sangihe.
‎
‎Namun, pengumuman tersebut kemudian dianulir beberapa saat setelahnya. Peserta nomor 8 dinyatakan batal dan digantikan oleh peserta nomor 10 dengan alasan terjadi kesalahan penyebutan.
‎
‎Momen tersebut sontak menjadi sorotan publik dan memicu beragam tanggapan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan profesionalitas pelaksanaan Grand Final, terutama terkait proses pengumuman hasil yang mengalami perubahan ketika acara masih berlangsung di atas panggung.
‎
‎Kekecewaan juga disampaikan orang tua Lucy Mandagi, Robby Mandagi. Menurutnya, Pemilihan Momo Ungke merupakan ajang bergengsi yang membawa nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Karena itu, seluruh tahapan pelaksanaan dinilai semestinya dipersiapkan secara profesional, termasuk pemilihan pembawa acara serta mekanisme pengumuman hasil.
‎
‎Selain persoalan pengumuman tiga besar, sikap dan etika sebagian panitia maupun juri juga mendapat sorotan. Salah satu kritik menilai tindakan MC dalam kegiatan tersebut berpotensi memengaruhi atau bahkan “membunuh karakter” salah satu peserta.
‎
‎Sorotan tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi karena Pemilihan Momo Ungke Sangihe sejatinya tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan, melestarikan, dan menjunjung tinggi budaya serta kearifan lokal Sangihe.
‎
‎“Menjunjung tinggi budaya dan karakter seharusnya tidak hanya menjadi slogan dalam sebuah kegiatan. Nilai tersebut juga harus tercermin dari sikap panitia dan juri dalam memperlakukan seluruh peserta,” demikian salah satu sorotan yang disampaikan.
‎
‎Kritik tersebut diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi penyelenggara agar pelaksanaan Pemilihan Momo Ungke Sangihe pada tahun-tahun berikutnya dapat berlangsung lebih profesional, transparan, objektif, dan beretika.
‎
‎Sebagai ajang yang membawa nama budaya daerah, Pemilihan Momo Ungke diharapkan tidak hanya melahirkan figur yang memiliki kemampuan, wawasan, dan prestasi, tetapi juga mampu mencerminkan karakter, sopan santun, serta penghormatan terhadap budaya dan masyarakat Sangihe.
‎
‎Pihak yang merasa dirugikan maupun memiliki keberatan terhadap proses pemilihan juga diharapkan menyampaikan persoalan melalui mekanisme yang tepat. Dengan demikian, setiap keberatan dapat diklarifikasi secara terbuka, objektif, dan berimbang oleh pihak penyelenggara.
‎
‎Hingga berita ini disusun, sorotan dan protes tersebut masih menunggu tanggapan resmi dari panitia maupun penyelenggara Pemilihan Momo Ungke Sangihe 2026. Klarifikasi dari pihak penyelenggara dinilai penting agar informasi yang berkembang di tengah masyarakat dapat dijelaskan secara utuh dan tidak menimbulkan kesimpulan sepihak.
‎‎(Rinny)
‎

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *