Nestapa Ibu di Wioi,Pertanyakan Kinerja KanitRes Polsek Ratahan, Panglima OKLB Desak Kapolres Mitra Copot Iptu Jeanry Karinda 

Nortje Rugahang Menunjukan surat perdamaian antara korban dan pelaku, di Desa Wioi 2 Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara, Jumat 20/11.(Foto:Yud/LCP)

RATAHAN — LACAKPOS.CO.ID — Dengan Mata berkaca-kaca dan nada suara terbata-bata , perempuan Nortje Rugahang menceritakan hal ikwal sang anak lelaki inisial RE alias Aldi yang sekarang meringkuk ditahanan Polsek Ratahan.

“Saya sudah melakukan berbagai cara yang disarankan kepolisian agar anak saya tidak dipenjara,” ujar Nortje dikediamannya Desa Wioi 2 Kecamatan Ratahan Kabupaten Minahasa Tenggara, Jumat (20/11).

Bacaan Lainnya

Dihadapan awak media Ibu yang bekerja serabutan ini menceritan awal mula pemukulan yang dilakukan anaknya terhadap korban lelaki Jeini Wangke (47) pada tanggal 19 September 2021 sekira pukul 21.30 Wita.

Akibat layangan sekali bogem mentah itu ,  berujung anak semata wayangnya dilaporkan ke Polsek Ratahan.Berbagai upayapun dilakukan pihak keluarga untuk sang anak yang merupakan tulang punggung keluarga.

“Kami sudah mengupayakan penagguhan penahanan, namun tidak digubris.Bahkan surat perdamaian yang sudah ditanda-tangani pelaku dan korban tidak juga membuat Kanit Reskrim Polsek Ratahan Iptu Jeanry F. Karinda  tersentuh,”sesalnya sambil memperlihatkan secarik kertas yang isinya perdamaian pelaku dan korban yang ditandatangani.

Upaya melibatkan pemerintah Desa, yaitu Kepala Desa Wioi 1 dan Wioi 2 yang meminta agar pelaku tidak ditahan, karena sudah berdamai.Itupun tak dianggap.

Lebih parahnya lagi, dari pengakuan Nortje,  sang Kanit meminta uang sebanyak Rp 10 Juta. Alasannya untuk membantu operasional Polsek jika sewaktu-waktu anak korban melarikan diri.

“Kan saya sudah mengatakan, Kami (Saya dan Suami,red) adalah jaminannya, tetapi Kanit mengatakan itu tidak cukup, harus menitip uang sebanyak Rp 10 Juta untuk operasional manakala pelaku melarikan diri,” ucapnya.

Sehingga muncul dugaan jika keluarga pelaku menuruti kemauan Kanit Res memberikan Rp 10 Juta kemungkinan proses penangguhan penahanan dan surat perdamaian antara pelaku dan korban bisa diproses.

Kapolsek Ratahan AKP Novri Maramis saat memberikan keterangan ke awak media.(Foto:Yud/LCP)

Sementara itu Kapolsek Ratahan AKP Novri Maramis saat dimintai keterangan mengatakan bahwa kasus ini sudah P21 atau berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejari Amurang.

“Masalah surat penangguhan penahanan dan surat perdamaian antara pelaku dan korban tidak pernah saya lihat disertakan dalam dokumen yang ada,”terang mantan Kasat Res Polres Minut ini.

Sekedar diketahui, pelaku ditahan sejak bulan September sampai bulan November, artinya sudah 3 bulan ditahan untuk proses lidik dan sidik.”Saat ini pelaku menjadi tahanan Kejari Amuran yang dititipkan di Polsek Ratahan,” beber Maramis.

Panglima Ormas Kristen Laskar Benteng Indonesia (OKLBI) Jim Yon Sumigar.

Kasus inipun menjadi perhatian Panglima Ormas Kristen Laskar Benteng Indonesia (OKLBI) Jim Yon Sumigar.Menurutnya ini masuk tindak pidana ringan (Tipiring),”Kenapa pihak kepolisian dalam hal ini Kanit Res Polsek Ratahan tidak mengubris permintaan penangguhan dan surat perdamaian yang sudah ditanda-tangani,” tanya Sumigar sembari menambahkan jika bisa kasus ini di Restorative Justive (RJ).

Lelaki berbadan tegap yang membawahi ribuan anggota ini menduga, kasus ini sengaja dibuat berlarut-larut, buktinya usaha  keluarga tidak diindahkan dan sangat disayangkan pelaku ditahan begitu lama yakni sekitar tiga bulan, padahal kasus tipiring.

“Kami akan terus mengawal kasus ini dan meminta Kapolres Mitra mengevaluasi kinerja Kanit Res Polsek Ratahan, kalau perlu dicopot dari jabatannya,”tegas Panglima Besar OKLBI.(YUD)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *